Rabu, 14 Januari 2015

Jalan-jalan ke curug di Kabupaten Tasikmalaya-1

1. Curug Batu Blek
Ingin menjajal kemampuan fisik dan mental sekaligus menikmati segar dan indahnya pemandangan, maka jalan - jalanlah ke Curug Batu Blek. Tidak hanya itu, anda juga akan mendapatkan pengalaman - pengalaman yang berbau misteri dan suasana yang hening, senyap dan dingin, cukup membuat bulu kuduk berdiri. Anda akan mendapatkan kepuasan dapat menaklukkan curug yang terletak di jantung pedalaman kaki Gunung Galunggung. Bagi saya perjalanan ke curug ini yang paling terasa puas dan sekaligus juga mendebarkan. Ya Curug Batu Blek
                               
Disebut Curug Batu Blek atau sering disingkat dengan Curug Blek karena dinding batu tempat keluarnya air curug adalah susunan batu - batuan yang relatif berbentuk persegi berwarna hitam mengkilat. Bentuk persegi itu mengingatkan orang pada kaleng krupuk persegi atau blek. Dengan dua aliran curug yang cukup deras ditambah dengan dinding seperti batu blek membuat curug ini terlihat indah dan memberi kesan. Tapi bagi saya disamping keindahan pemandangan itu, perjalanan ke lokasi curug disamping disuguhi panorama alam yang memikat adalah jaraknya yang jauh dan melelahkan kurang lebih 4 km dari tempat menaruh mobil. Tidak hanya itu pada sebagian perjalanan kita benar - benar ditantang nyali karena harus meniti jalan pinggir jurang. Disinilah saya akan katakan memberi nilai tambah keasyikan jalan - jalan ke Curug Blek.
 Secara administrasi Curug Blek berada di wilayah Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong. Untuk mencapainya kita masuk ke jalan raya Singaparna - Ciawi. Ketika sampai di wilayah Kecamatan Cisayong, tanyakan ke penduduk simpang jalan Cipeuteuy dan terdapat pos ojek .yang menuju lokasi. Mula - mula jalan masuk masih berupa jalan aspal jelek, lalu masuk ke perkampungan dengan jalan semen. Ada semacam portal desa, mobil masih bisa masuk.
Perjalanan selanjutnya mulai masuk jalan sempit. Perkampungan mulai jarang dan lebih banyak tanah sawah. Pada akhirnya mobil sebaiknya parkir di ujung kampung, kalaupun dipaksakan masih bisa menanjak lagi dan berakhir di dekat persawahan. Masih ada lagi tempat luang tetapi karena harus melewati jembatan yang pas badan mobil dan langsung berbatasan dengan jurang lebih baik tidak usah. Untuk kendaraan roda dua masih bisa melanjutkan perjalanan. Namun harus pastikan motor dalam keadaan sehat sebab perjalan berikutnya akan semakin berat baik kondisi maupun sempitnya jalan.
Perjalanan diteruskan dengan jalan kaki atau naik motor. Daerah sekeliling jalan berupa kebun campur yang ditanami tanaman keras serta lahan sayuran. Setelah itu barulah kita menghadapi jalan sulit yang sesungguhny. Jalan tersebut berupa jalan yang untungnya masih berupa semen tetapi arahnya menanjak cura. Motor tidak sehat sudah pasti tidak akan mampu menanjak dengan kemiringan yang tajam itu. Sementara kalau jalan kaki...hadeuh.....hehhh....heeehhh.....begitu sampai di puncak dijamin akan ngos-ngosan. Sudah dekat? Siap siap simpan tenaga, masih kurang lebih 3 km dengan medan yang menantang secara fisik dan nyali diuji juga.
Kembali kita bertemu dengan lahan sawah dan sayuran. Mula-mula datar tapi tidak lama jalan akan menanjak meliuk dengan fisik jalan berupa jalan tanah dan sempit. Jangan ditanya kalau habis hujan pasti akan licin dan liat. Sekali lagi hanya motor sehat yang bisa melalui jalan ini.
Di sepanjng perjalanan ini benar - benar kita dibuat takjub dengan bentang alam berupa sawah dibuat bertingkat mengikuti lekuk kontur. Sangat bagus untuk berfoto ria disini. Kemudian masuk ke pemukiman dan setelah itu 300 m lagi masih ada satu rumah. dimana ini adalah yang terakhi. Mau tidak mau kita harus menitipkan motor disini, karena jalan berikutnya hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Kalau motor dipaksa masuk, hanya ada dua pilihan, kita atau notor yang jatuh ke bawah.
 Jalan hanya selebar tubuh orang dewasa, sementara sebelah kanan langsung tebing setinggi 10 m yang di bawahnya kebun sayur. Kita jalan terus hingga ujung jalan dalam kesunyian semakin terasa. Hampir tidak ada orang. Unsur mistis semakin terasa. Percaya atau tidak percaya, seperti biasa kata orang tua jangan sompral (sembarangan ngomong).Pengalaman penulis, di ujung jalan bertemu dengan laki2 paruh baya. Ketika ditanya dimana arah curug, dia menunjukkan arah yang berbeda dengan petunjuk yang sebelumnya kami peroleh di perkampungan sebelumnya. Kami mengiyakan. Dan benar, bila kita ikuti perkataan dia pastilah akan tersesat, entah kemana apalagi sampai ke lokasi. Kecurigaan baru disadari karena laki2 itu berlalu begitu cepat. Ah sudahlah, yang penting kita berdoa dan yakin bahwa Allah SWT akan menolong.
 Di ujung jalan setapak ini kita menemukan jalan beraspal jelek di sebelah kanan. Tapi itu bukan jalan ke arah curug melainkan ke kampung lain di wilayah Cisayong. Di depan juga adalah jalan setapak tanah, tetapi itu juga bukan jalan ke arah curug. Jalan menuju curug adalah mengikuti jalur irigasi sederhana sesuai arahan dari penduduk di perkampungan di bawah.
Kita mengikuti jalur irigasi yang dibeton dan itu masuk ke dalam hutan belukar. Hutan belukar adalah kawasan hutan lindung yang dikelola oleh Perhutani. Awal jalan irigasi ini sepertinya akan mudah tetapi kenyataan akan sebaliknya karena benar - benar tidak ada jalan lain kecuali meniti tepian irigasi. Lingkungan sekitarnya masih berupa hutan belukar yang cukup lebat. Disinilah kita benar - benar diuji fisik dan mental.
 Masih sekitar 1,5 km ke dalam dan jangan pernah bayangkan jalur  yang kita ikuti pasti akan terus menyambung. Benar, baru 100 m mengikuti sudah terputus dan berganti dengan jalan air dari tanah sementara sekitarnya setengah longsor, Terpaksa kita sedikit memutar dan bertemu kembali dengan jalur irigasi. Kembali kita ikuti jalan ini. Sekitar 800 m jalur irigasi terputus dan ini benar - benar menguji nyali. penghubungnya adalah tumpukan tanah licin. Hati - hati sekali melewati jalan ini. Terpelesat, habislah sudah karena akan jatuh langsung dari ketinggian 100 m tanpa ada penghalang.
Alhamdulillah berhasil melewati rintangan itu. Kita terus mengikuti jalannya aliran air. Di suatu jalur kita terpaksa berjalan di sungai (creek) karena hanya itu jalan yang ada sementara sebelahnya jurang. Kadang kala kita mendengar suara gemerici air. Jangan terburu nafsu mendapatkan sumber suara itu, sebab kadang - kdang hilang suara itu. Sesuai dengan petunjuk masyarakat ikuti terus sampai bertemu curug. Akhirnya sampailah juga di curug yang dimaksud. Mula - mula kita temui sungai agak lebar tetapi sedikit airnya. Di ujung sungai terdapat sebuah curug.yang tidak tinggi dan aliran airnya tidak begitu deras.
 Curug yang pertama kita lihat ini bukan Curuk Blek melainkan bagian dari aliran Curug Blek yang berada di atasnya. Meskipun tidak sebesar Curug Blek, curug ini lumayan indah karena meliuk keluar dari batuan besar. Bolehlah kita beristirahat sejenak mengumpulkan tenaga setelah perjalanan melelahkan. Nah, sekarang kita naik ke atas menuju Curug Blek, one step to our destiny. Tetapi jalan ini paling berbahaya.
 Saluran irigasi yang bersumber dari Curug Blek ini, bagian pangkalnya berbentuk tangga. Tepi irigasi yang berundak itu tidak terlalu tinggi dan jauh. Yang membuatnya berbahaya karena tepian tersebut lumayan licin, sempit dan ini...yang sangat menantang yaitu cipratan air yang mengalir deras di saluran sangat terasa ke tubuh kita. Sedikit kita lengah atau terpengaruh oleh derasnya aliran irigasi itu tidak main - main, langsung jatuh ke jurang sedalam lebih dari 100 m. Karena itu kita harus benar-benar konsentrasi memijak tepian saluran. Bila perlu kita merangkak menaiki tepian tangga demi tangga. Akhirnya sampailah kita ke Curug Blek.
Seperti yang telah dikemukakan di awal kisah, bahwa Curug Blek mempunyai keunikan yaitu dinding batu yang mirip kaleng krupuk atau blek. Aliran airnya cukup deras meskipun di tengah musim kemarau, waktu dimana penulis mengunjungi curug ini. Dan yang lebih mengasyikkan adalah airnya yang sangat dingin. Tidak afdol rasanya kalau datang ke curug ini hanya berfoto sedangkan perjalanan yang ditempuh tadi jauh dan menantang.
 Kolam tempat jatuhnya air tidak beegitu dalam dan nyaman untuk dipijak karena dasarnya adalah batuan bulat. Disarankan tidak menyambut langsung jatuhnya air karena sangat deras yang efeknya seperti menerima beban puluhan kilogram. Lebih baik di cipratan airnya saja, dan itu juga sudah membuat segar di badan. Usai kita puas mandi dan berfoto - foto, kita pulang meninggalkan curug. Paling lambat jam 3 siang harus sudah beranjak pulang. Sangat berbahaya bila turun kabut meski tidak tebal apalagi kalau hujan.Yang jelas kurang begitu aman berada di tengah tengah hutan. Perjalanan pulang biasanya lebih cepat karena sudah mengetahui trik mengatasi beratnya medan. Usai sudah satu cerita mengesankan menemukan lokasi curug yang indah.
 Pesan untuk pelancong agar jangan meninggalkan sampah plastik. Sayang, surga yang masih tersembunyi ini harus tetap dijaga bersih dan asri. Karena itu apabila ada rencana pengelolaan sebaiknya cukup sebatas jalan akes saja yang diperbaiki tidak boleh merubah drastis lingkungan. Seringkali pembangunan tempat wisata justru merusak lingkungan dan menghilangkan keasrian.

Letak lokasi : 7-1414,904 LS, 108-559,034 BT (lokasi Curug Batu Blek)
                7-1417,172 LS, 108-557,06 BT (lokasi curug ke-2)

2. Curug Gadog Bangkong - Curug Cibadak
Sebenarnya Curug Gadog Bangkong, Curug Cibadak dan Curug Batu Blek (Curug Blek) berada dalam satu wilayah Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong. Hanya saja Curug Blek diakses dari jalan yang berbeda. Sedangkan untuk 2 curug lainnya diakses dari simpang jalan ke Desa Santana Mekar, dari jalan Singaparn - Ciawi.
 Bila berkendaraan roda 4 mobil diparkir di perumahan sebelum tanjakan tinggi. Jalan menuju bukit dengan tanjakan tinggi berupa jalan semen. yang hanya cukup untuk motor. Pemandangan yang dilalui sangat indah, karena terdapat jurang yang sangat tinggi dengan variasi lahan sawah dan sayuran. Jarak tempuh dari tempat menaruh mobil hingga lokasi curug sejauh 3 km. Sedangkan apabila menggunakan motor bisa sampai mendekati curug. Namun untuk itu harus berhati - hati karena jalan sempit dan tepinya adalah jurang yang dalam serta kemiringan yang curam.
 Jalan kaki memang melelahkan tetapi terhibur oleh pemandngan yang indah sekeliling kita. Selain itu jalan relatif ramai karena merupakan penghubung antar kampung sehingga perjalanan tidak terasa. Sebenarnya kalau tidak ingin capai bisa juga sewa ojek dengan tarif sekitar Rp. 20.000.
 Kita sampai di semacam shelter sederhana. Disini kita sudah bisa melihat Curug Gado Bangkong dari kejauhan, yang menunjukkan curug tersebut cukup tinggi dan besar. Untuk menuju curug kita melewati semacam sungai kecil (creeks) dengan mencebur diri ke dalamnya karena tidak jalan tanah. Tidak usah khawatir hanya setinggi mata kaki. Terasa dingin dan segar di kaki. Tidak jauh, sekitar 50 meter sampailah ke Curug Gede Bangkong.
 Mandi di sekitar jatuhnya air akan terasa sangat segar. Di tempat persis jatuhnya air cukup dalam sekitar 2 meter tapi kedalamannya bertahap. Mengingat letak curug cukup terbuka kita dapat menikmati dari berbagai tempat.
 Curug satu lagi adalah Curug Cibadak dengan jarak sejauh kurang lebih 1,5 km. Dari shelter kita terus naik ke atas bukit hingga menemui areal persawahan. Lalu mengikuti pematang besar menuju sebuah rumah. Dari rumah ini kemudian masuk ke daerah semak belukar dan turun sedikit. Tidak lama kita menjumpai Curug Cibadak. Curug ini merupakan sungai kecil yang mengalir dan kemudian
jatuh tidak terlalu tinggi sekitar 10 m lewat sebuah batu besar.
 Yang menarik adalah batu-batu besar yang licin dan hitam kontras dengan air sungai dan curug yang bening.Hanya untuk perhatian agar hati - hati di tempat yang tinggi karena umumnya bahaya terpeleset akan berakibat fatal.

3. Curug Citiis Padakembang
Tidak seperti curug lainnya, tujuan ke curug ini disamping menikmati pemandangan yang indah dan segarnya air curug, untuk yang berkeyakinan terhadap hal-hal berbau mistik maka disinilah tempatnya. Letak Curug Citiis di Desa Padakembang, Kecamatan Padakembang. Arah menuju kesana sama dengan jalan menuju ke kawasan wisata Gunung Galunggung. Simpang jalan menuju Desa Padakembang jauh sebelum tanjakan jalan ke Galunggung. Kondisi jalan desa Padakembang masih berupa aspal dan sebagian lagi adalah jalan batu pengerasan sampai ke ujung jalan desa. Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan jalan kaki atau naik motor. Hanya kalau dengan motor perlu dipastikan kondisi motor sehat dan pemotor harus cukup trampil melewati trek sempit dan tanjakan berliku. Bila tidak disarankan sewa ojek. Dari tempat parkir mobil hingga ke lokasi curug sekitar 3 Km.
Curug Cittis memang standar untuk pemandangan curug. Tapi nilai lebihnya adalah airnya yang sangat segar dan dingin karena langsung dari sumber air gunung serta pemandangan sekitarnya yang indah dan alami. Selain itu sudah cukup lama curug ini menjadi semacam tempat titual atau istialh bahasa Sunda adalah pananyaan. Banyak orang mengalap berkah dengan air curug ini karena diyakini memiliki banyak khasiat. Hal itu juga dikaitkan dengan keberadaan makam Eyang Prabu Semplak Waja, Eyang Tajimalela dan Eyang Susuk Tunggal.
 Pengunjung yang murni menikmati keindahan curug di hari sabtu-ahad tidak banyak. Pengunjung yang dominan adalah dalam rangka ngalap berkah yang datang pada waktu - waktu tertentu.
Daerah yang dilalui berupa lahan pertanian dan belukar, Lanskap sekitar perjalanan cukup indah, yang merupakan perpaduan antara hamparan sawah dan kebun rakyat. Sebelum tiba di curug kita akan menemukan sebuah rumah tradisional berbentuk unik yang ternyata merupakan salah satu orang "pintar".
4. Curug Panoongan 
Lokasi curug ini berada dalam kawasan wisata Cipanas Galunggung. Jadi bila rencana wisata ke Gunung Galunggung sekaligus dapat melihat curug ini. Di dalam kawasan pemandian air panas yang sering disebut Cipanas Galunggung terdapat dua bagian pemandian. Setelah pintu gerbang merupakan kolam renang yang airnya cukup hangat. Selanjutnya bagian ke dalam merupakan aliran sungai dan kolam mata air dengan air hangat yang diatur sedemikian rupa sehingga kita bisa nyaman berendam. Areal lokasi ini kita harus membayar seharga Rp. 10.000 per orang. Nah di areal inilah letak Curug Panoongan.
Setelah kita berada di dalam areal pemandian alam apabila hendak ke lokasi curug dengan mengikuti jalan setapak menyelusuri tebing. Jalan melewati belukar kurang lebih 1 km mencapai lokasi curug. Biasanya hari sabtu-ahad banyak pengunjung sehingga kita tak perlu khawatir tersesat.
Curug Panoongan itu sendiri merupakan aliran air yang keluar dari celah batu memancar sehingga kesannya seperti keluar dari tempat persembunyian. Dari sebab itulah disebut panoongan yang dalam bahaasa Sunda berarti tempat ngintip. Airnya yang keluar langsung jernih dan dingin.
 Disarankan lebih baik menikmati air curug ini sebelum berendam di air hangat. Terasa sekali sensasinya. Adanya dua jenis air yang berbeda suhu termasuk jarang, sebab biasanya di tempat lain seperti di Cipanas Garut, Sangkanhurip Kuningan dan Ciater Subang hanya terdapat air panas saja. Sedangkan di Cipanas Galunggung, kita bisa menikmati air hangat dan air dingin. Sungguh sayang kalau tidak dicoba.

5. Curug  Ciparay
Curug ini memang belum populer karena lokasinya yang jauh masuk ke pedalaman, meskpun jalannya lebih baik dibandingkan ke Curug Blek. Perjalanan ke lokasi pun  harus ditempuh dengan jalan kaki sejauh 2,5 km dengan kemiringan yang cukup curam sehingga bakal menguras tenaga anda. Tetapi percayalah, setelah menempuh pejalanan yang melelahkan anda akan menemukan air terjun yang menakjubkan karena tinggi dan derasnya air.

Letak curug ini di Dusun Parentas, Desa Cidugaleun, Kecamatan Cigalontang. Akses menuju ke sana adalah dari bundaran Singaparna, ambil ke arah Galunggung kemudian melewati Kecamatan Sariwangi hingga Desa Cidugaleun. Pemandangan sekitar sangat indah apalagi setelah berada di tempat yang tinggi. Kita dapat melihat sawah dan lahan hortikultura yang dibuat terasering mengikuti kontur medan. Sebelumnya di tengah perjalanan kita melewati suatu sungai yang dekat dengan permukaan jalan. Pemandangannya indah.
 Tiba di desa Cidugaleun terus jalan ke arah kampung Parentas. Sayangnya kondisi jalan buruk dan sempit. Dianjurkan kendaraan roda 4 parkir di rumah terakhir sebelum tanjakan. Atau kalau mau dipaksakan setelah tanjakan, dengan syarat kondisi kendaraan harus bagus karena lereng yang curam serta jalan batu lepas.
Titik awal jalan setapak menuju curug ditandai semacam gardu rusak. Dahulu pernah jadi obyek wisata tapi sekarang sudah ditinggalkan.
Jalan ke curug berupa jalan setapak dengan kondisi lumayan. Turunan jalan cukup curam, jadi harus hati - hati terutama bila musim  hujan karena licin. Tidak lama kita turun sudah terlihat dari kejauhan Curug Ciparay. Ada sedikit gangguan yaitu terputusnya jalan setapak tapi masih bisa dilalui karena ada beberapa batang kayu sebagai jembatan penghubung. Sekitar perjalanan berupa hutan belukar. Tidak heran karena termasuk dalam kawasan hutan lindung di bawah pengawasan Perhutani.
 Setelah jarak tempuh sekitar 1,5 km dari titik awal jalan setapak sampailah kita di Curug Ciparay. Sungguh suatu  pemandangan yang luar biasa. Di lokasi Curug Ciparay terdapat 3 aliran curug dengan ketinggian relatif sama. Yang paling besar dan tinggi adalah Curug Ciparay itu sendiri dengan ketinggian 80 m. Curug yang kedua berupa dua aliran curug  kembar yang curahannya tidak sederas Curug Ciparay dengan ketinggian sekitar 60 m. Karena curug tersebut belum diberi nama, mungkin sementara namanya Curug Kembar. Satu curug lagi yang posisinya disamping Curug Ciparay adalah seperti lembaran air yang mengalir seperti saweran. Karena itu bisa juga disebut Curug Sawer.
 
 Curahan Curug Ciparay sangat besar, dari ketinggian lebih dari 80 m disertai debit air yang sangat besar tidak mungkin kita tepat mandi di bawahnya. Terbayangkan hantaman beban yang sangat besar akan berbahaya sekali. Bahkan kalau ada angin sepertinya aliran curug berjalan, yang sebenarnya hanya sebagian saja. Disamping itu dasar kolam yang berbatuan dan cukup dalam di atas 2  m akan berbahaya bagi pengunjung jika terhempas oleh jatuhan air ke dalam kolam. Sebaiknya kita menikmati  di pinggiran kolam curug di Curug Sawer atau Curug Kembar. Batu-batuan besar yang diselimuti lumpur dan lumut membuatnya menjadi licin untuk dilalui.
 
6. Curug Bunar
Berada di kaki Gunung Cakrabuana tepatnya di Kampung Bunar, Desa Sukapada, Kecamatan Pagarageung. Akses jalan menuju Curug Bunar adalah dari jalan utama Bandung - Tasik, ambil simpang jalan pamoyanan ke arah Kecamatan Pagarageung dengan jalan berupa jalan aspal mulus. Selanjutnya masuk ke perkebunan teh Kampung Bunar, Desa Sukapada dengan kondisi jalan sempit dan merupakan jalan aspal terkelupas bercampur batu serta dengan kemiringan cukup terjal. Jalan tersebut masih layak untuk dilalui kendaraan roda 4, hanya perlu kondisi kendaraan yang prima.
 Jalan terakhir berupa tanjakan curam hingga batas akhir kampung. Sepanjang jalan mendekati batas akhir kanan kiri jalan berupa kebun teh. Perkebunan teh seluruhnya merupakan perkebunan milik rakyat yang dikelola oleh KUD setempat memiliki hamparan yang cukup luas meskipun tidak seluas milik perusahaan swasta/ BUMN. Di perkampungan terakhir kita titipkan kendaraan roda 4 maupun roda 2 karena berikutnya kita akan melalui jalan setapak di dalam kebun teh.
 Kebun teh langsung menyambut kita dengan suasana yang sejuk segar dan pemandangan luar biasa. Tidak seberapa jauh kita melangkah, kita akan disuguhi pemandangan yang indah yaitu lapangan rumput yang cukup luas dengan sekitarnya adalah kebun teh. Lapangan tersebut sering digunakan untuk lokasi kemah sekolah di sekitar kecamatan. Tetapi memang lokasi ini patut dipuji dan tidak kalah bagus dengan camping ground yang dikelola swasta, apalagi sekitarnya adalah kebun teh rakyat.
Di pagi hari kita bisa saksikan ibu - ibu dan gadis - gadis desa setempat memetik pucuk teh.
Jalan menuju curug melewati kebun teh berupa jalan setapak. Tanyakan kepada pemetik teh setempat arah menuju curug yang cukup mudah dikenali karena sudah ada trek jalan setapak. Agak berat perjalanannya karena medan naik turun dengan jarak tempuh sekitar 1,5 km tetapi masih enak dilalui.
Akhirnya kita sampai di Curug Bunar yang cukup mempersona. Curug ini terdiri dari 2 tingkat. Tingkat pertama berupa curug dengan ketinggian sekitar 10 m. Di curug inilah yang paling enak untuk mandi dan menikmati guyuran air curug. Sedangkan di curug kedua dengan keetinggian sekitar 20 m masih bisa juga untuk dinikmati kesegaran airnya tetapi harus hati- hati karena batuan cukup licin. Sekali jatuh cukup fatal akibatnya karena langsung ke aliran curug berikutnya. Tetapi kedua tingkat curug tersebut sangat segar sekali dan tidak ada salahnya menyicipi pancuran curug.

7. Curug Cikadu
Keberadaan curug ini tidak begitu populer meskipun letaknya relatif mudah dijangkau. Dari jalan utama Bandung-Tasik, tepatnya di simpang jalan menuju Desa Cikadu, Kecamatan Cisayong. Jalan menuju ke desa tersebut masih berupa aspal yang terkelupas dengan lebar yang masih cukup dilalui oleh 2 kendaraan berpapasan. Kanan kiri jalan adalah didominsi oleh lahan pertanian dan perkampungan.
Secara administratif, Curug Cikadu berada di Dusun Cipurut, Desa Mekarsari, Kecamatan Kadipaten. Untuk menuju curug ini, apabila dari arah Tasikmalaya, maka letak lokasi tersebut setelah Ciawi dan sebelum Pamoyanan. Dari jalan raya masuk ke jalan desa dengan kondisi aspal baik. Kurang lebih 1,5 km kita akan menjumpai simpang jalan menuju Dusun Cipurut dengan plang kecil di sisi simpang jalan. Setelah itu jalan ke Dusun Cipurut lebih sempit tetapi masih cukup baik.
Letak curug ini tidak jauh dari jalan desa sehingga terlihat dari kejauhan. Persisnya di belokan dan tanjakan jalan dimana terdapat tanah kosong rerumputan bercampur batuan dengan bangunan irigasi. Curug Cikadu dengan ketinggian sekitar 40 m sebenarnya cukup indah. Sayang pada waktu pengambilan gambar di tengah musim kemarau yang panjang sehingga debit air tinggal sedikit. Namun dilihat dari dinding curug yang ada diperkirakan apabila musim hujan dengan debit air yang cukup besar, aliran air curug akan nampak seperti tirai air dan satu aliran yang lebih deras.

3 komentar: