Kamis, 15 Januari 2015

Jalan-jalan ke curug di Kabupaten dan Kota Tasikmalaya-2

1. Curug Cimanintin
Curug Cimanintin perlahan mulai dikenal orang sebagai tempat tujuan wisata alam yang menantang. Disebut menantang karena perjalanan yang harus ditempuh dengan jalan kaki sejauh 3 km melewati kebun rakyat, meniti pematang sawah dan sedikit belukar dengan kondisi medan naik turun. Tapi itu semua tidak akan terasa karena pemandangan indah alami yang tersaji hampir sepanjang perjalanan akan menemani suasana hati kita. Belum lagi udara yang sejuk segar atau lebih hangat apabila matahari sudah tinggi akan lebih membuat kita semangat. Hitung - hitung olahraga. Mengingat jalan setapak menuju curug tidak jelas dan sekitar jalan tidak ada rumah dan sepi dari penduduk, disarankan kita menyewa seorang anak atau penduduk desa sebagai pemandu jalan. Kita hanya sekedar memberikan upah jerih payahnya, anggap saja sedekah.
 Letak lokasi Cimanintin di Kampung Babakan Joho, Desa Tanjungsari, Kecamatan Salopa. Dari jalur Tasikmalaya masuk ke simpang jalan Salopa. Jalan berliku - liku melewati kebun campur, sawah dan tegalan sampai akhirnya masuk ke perkebunan karet. Di pertengahan jalan terdapat simpang jalan menuju kampung Joho, demikian orang menyebutnya. Hanya di awal saja berupa jalan aspal mulus. Begitu masuk pemukiman jalan mulai jelek yaitu aspal mengelupas. Simpang jalan Kampung Joho yang merupakan akses jalan terakhir ditandai dengan plang nama. Perjalanan baik kendaraan roda 4 maupun roda 2 berakhir di ujung jalan pemukiman. Kita titipkan kendaraan disini di halaman rumah penduduk. Saat ini jumlah pengunjung sudah mulai banyak, terutama di hari sabtu dan minggu.
Saya menyarankan lebih baik menyewa pemandu perjalanan karena jalan yang diambil lebih pasti sehingga lebih cepat. Tetapi bila kita ingin coba sendiri, simak baik - baik arah jalan  yang diterangkan oleh penduduk. Sedapat mungkin bila kita sudah cukup jauh dan bertemu dengan penduduk, tanyakan arah jalan ke curug. Sekali lagi lebih baik ditemani penduduk setempat karena ada beberapa tempat yang membingungkan. Usahakan ketika melalui pematang sawah tidak membuat longsor dan tidak merusak tanaman.
Jalan kaki melewati sawah, kebun, tegalan dan belukar akhirnya sampai pada batu besar. Dari balik batu besar itulah terlihat curug yang kita cari dari ketinggian sekitar 80 m. Curug  Cimanintin berbentuk seperti tirai air yang cukup deras. Kita bisa bermain - main di bawah curahan air karena tidak begitu berbahaya dan kedalaman kolamnya sebatas perut. Airnya cukup jernih dan dingin. Sayang pengambilan gambar curug ini pada saat kemarau panjang sehingga tidak banyak air yang keluar. Tetapi hati sudah sangat puas, puas menempuh perjalanan yang menguji fisik, mental dan otak (mengatur strategi memilih jalan), puas memandang panorama yang luar biasa dan tentunya berhasil menemukan curug yang indah ini. Selamat berkunjung...
2. Curug Dengdeng Cipatujah dan Curug Caringin
Banyak orang salah kaprah dengan nama Curug Dengdeng Tasikmalaya. Orang merasa sudah mengunjungi Curug Dengdeng di Cipatujah atau Cikatomas, padahal di kedua tempat tersebut masing - masing ada Curug Dengdeng. Hal itu karena disamping namanya yang sama juga bentuk fisiknya sedikit mirip. Curug Dengdeng baik di Cipatujah maupun di Cikatomas sama - sama berbentuk seperti air terjun Niagara. Hanya tinggi tebing pertama di Curug Dengdeng Cipatujah lebih pendek. Waktu terbaik mengunjungi Curug Dengdeng Cipatujah dan Cikatomas adalah pada awal musim kemarau dimana air masih tersedia cukup banyak tetapi air jernih karena hujan sudah jarang sehingga tidak banyak erosi.
Secara administrasi Curung Dengdeng Cipatujah berada di Kampung Caringin, Desa Cikawung Gading, Kecamatan Cipatujah. Selain melalui jalan darat ke Kampung Caringin, kita juga dapat mencapai Curug Dengdeng dari tebing terbawah melalui Sungai Cilangla dengan perahu. Baru setelah itu memanjat naik tebing untuk mencapai hulu curug. Keuntungan bila masuk dari sungai akan lebih luas pemandangan curug yang bisa dilihat. Sedangkan sungai yang mengalir di curug atas adalah Sungai Cikembang.
Akses menuju Curug Dengdeng dimulai dari jalan raya pantai selatan Cipatujah - Pangandaran. Berikutnya adalah simpang jalan Cikawung Gading yang berada dekat dengan kantor desanya. Kondisi jalan desa berupa jalan makadam atau batu pengerasan sehingga bisa dilalui kendaraan roda 4 dan 2. Jarak tempuh dari jalan raya hingga akhir jalan di Kampung Caringin sejauh kurang lebih 4 km. Kita bisa titipkan kendaraan di halaman rumah penduduk.
Perjalanan selanjutnya akan melewati hutan jati, sawah dan tegalan. Sebenarnya supaya lebih lancar kita sebaiknya menggunakan jasa pandu anak - anak karena tidak ada jalan setapak khusus ke arah curug jadi akan meraba - raba dan menunggu bila ada penduduk lewat untuk bertanya. Disamping itu keberadaan anak - anak sangat bermanfaat ketika kita hendak turun tebing ke tingkat curug di bawahnya karena hanya dengan batang yang diberi tatakan sehingga harus disangga. Selain itu ketika musim hujan air menutupi seluruh permukaan sungai sehingga kita tidak tahu tiba - tiba ada legokan dalam. Dan ini sangat berbahaya bila terpeleset akan terbawa arus dan jatuh dari ketinggian yang di bawahnya sudah menanti batuan besar. Iiihh..ngeri..
Setelah melewati permukiman penduduk kita akan menjumpai areal hutan jati milik Perhutani. Penduduk masih dapat memanfaatkan areal ini untuk mendirikan kandang sapi. Jarak tempuh ke curug sekitar 1,5 km. Terakhir kita melewati semak belukar dan jalan setapak mendadak menurun tajam. Bila musim hujan lumayan licin. Begitu kaki menginjak dataran langsung kita dihadapkan pada sungai yang meluap dan deras.
Curug Dengdeng yang mirip potongan air terjun Niagara sungguh indah. Air dari Sungai Cikembang mengalir menutupi tebing sekitar 30 m seperti tirai lebar. Kemudian dari sungai di bawahnya mengalir lagi menuju tebing curug berikutnya. Ada 4 tingkatan curug yang dapat dilihat di areal sekitar Curug Dengdeng. Tidak salah bila curug ini disebut miniatur air terjun Niagara. Hal yang sama juga untuk Curug Dengdeng Cikatomas.
Untuk menuju curug tersebut harus menyeberangi sungai deras. Butuh bantuan penduduk setempat untuk mengetahui tempat pijakan yang aman. Sesungguhnya bila musim kemarau akan terlihat bagian- bagian yang aman tersebut karena genangan air sungai dangkal. Disinilah perang pemandu  masyarakat setempat di butuhkan. Mengingat curug ini berasal dari aliran sungai dan sudah mendekati hilir sehingga warna air sudah agak kecoklatan bercampur dengan lumpur yang terbawa.
Kita bisa turun ke tebing selanjutnya melalui bagian yang kering. Disini hanya tersedia sebatang gelondong kayu yang sudah ditatah membentuk anak tangga. Amat sulit menuruni batang setinggi 2 m itu tanpa bantuan orang lain.
Di tebing kedua, pemandangan curug tidak kalah indahnya. Tebing curug lebih lebar sehingga aliran air lebih deras.Di sisi tebing lainnya juga ada curug yang keluar dari batu-batuan. Ini  menambah indah di tebing kedua dan lebih asyik untuk bermain - main. Banyaknya curahan air di sekeliling areal curug membuat kita seakan - akan seperti di waterpark. Sekali lagi mengingat batu - batuan sedikit berlumpur sehingga harus hati - hati bila melangkah pada areal dekat dengan jurang. Sangat riskan bila terpeleset. Selebihnya...nikmati bermain air di Curug Dengdeng dan ber-selfie ria.
Masih ada satu curug lagi yaitu Curug Caringin. Lokasinya dari Curug Dengdeng arah pulang melalui jalan setapak menyimpang dari jalan pertama menuju Kampung Caringin. Hanya curug tunggal dengan ketinggian 20 m. Kita hanya bisa melihat dari awal jatuhnya curug di tebing. Bila ingin melihat bentuk curug dari bawah harus menuruni batu - batuan besar tapi licin. Agak berbahaya memang. Sesampainya kita di bawah hanya di bagian pinggir saja jadi tidak langsung berhadapan dengan curug. Tapi sudah lumayan indah.
3. Curug Dengdeng Cikatomas
Tidak kalah dengan Curug Dengdeng Cipatujah, Curug Dengdeng Cikatomas juga memberkan pemandangan miniatur Niagara. Tebing jeramnya lebih lebar, namun dari dari debit airnya lebih deras. Sebagian orang curug ini lebih indah dari yang di Cipatujah, sebagian lagi sebaliknya. Tetapi bagi saya keduanya punya daya pikat sendiri.

Jalur masuk ke curug ini adalah melalui jalur jalan Salopa - Cikatomas. Setelah pom bensin Cikatomas ada jalan di sebelah kiri ke arah Tawang. Jalan di jalur ini sebagian jalan aspal bagus, sebagian lagi kurang. Kurang lebih 10 km sampai ke pengkolan jalan ke Desa Cogreng Tak ada petunjuk lokasi, karena itu kita harus rajin bertanya. Jalan masuk ke Desa Cogreng berupa jalan makadam (jalan batu diperkeras). Untuk kendaraan roda 4 kita hanya sampai di depan kandang ayam. Kita parkirkan mobil disitu. Sedangkan untuk motor dapat terus hingga dekat sungai dengan catatan kondisi jalan sehabis hujan sangat lengket, sempit dan sedikit ada tanjakan.
Jalan kaki dari tempat kandang ayam hingga sungai tempat curug sekitar 2 km. Kondisi jalan berbatuan bercampur tanah. Ada sedikit tanjakan setelah melewati lebak (dataran rendah). Sekitarnya merupakan tanah pertanian lahan kering (tegalan) dan sedikit semak belukar.
Ketika kita sampai di pinggir sungai tempat curug, kita harus turun melewati semak - semak hingga bertemu dengan sungai. Disinilah kita langsung menemui curug yang  megah terjun dari tebing tegak lurus seperti jeram Niagara. Ketinggian curug diperkirakan 30 m. Lebar curug ini lebih lebar dari Curug Cipatujah. Bingung mana yang lebih indah di antara keduanya, sama - sama bagus.
Kita bisa bermain - main air di bawah curahan air di tebing pertama. Air yang deras dan dingin begitu sampai di tubuh terasa sekali pukulannya. Airnya cukup jernih karena dasar di sungai atas adalah batuan sehingga tidak banyak lumpur yang terbawa. Untuk keamanan, mendekati jeram pada tebing kedua harus ekstra hati - hati karena batuannya cukup licin. Tergelincir akan segera terbawa aliran air dan jatuh ke dasar curug dari keringgian 50 m.
Curug Dengdeng terdiri dari 3 tingkatan. Tingkat yang pertama adalah dari sungai kemudian turun dari tebing pertama melewati jalan setapak semak - semak. Sedangkan untuk tingkatan di bawah berikutnya harus lebih susah lagi yaitu menuruni tebing berbatuan yang curam tetapi masih bisa dilewati.
4. Curug Koja - Curug Bakom - Curug Celeng
 Ketiga curug tersebut berada di Desa Linggajaya, Kecamatan Cikatomas. Untuk Curug Koja dan Curug Bakom lebih mudah dijangkau dari Desa Ciwatin, Kampung Pasir Dati. Letak jalan masuk ini setelah melewati ibukota kecamatan. Jalan masuk ke desa ini berupa jalan batu yang diperkeras. Kendaraan roda 4 sebaiknya diparkir di dekat masjid atau turun ke bawah sedikit ada tempat luang. Sedangkan untuk motor masih bisa masuk hingga perkampungan terakhir.
Dari kampung terakhir kita jalan kaki masuk melalui kebun campur milik penduduk, sawah, tegalan dan sedikit belukar. Seperti biasanya, sebaiknya menggunakan jasa pandu penduduk setempat agar lebih lancar karena susah menebak arah ke lokasi curug. Medan jalan setapak naik mendaki pasir (bahasa sunda : bukit kecil) dan aliran sungai kecil. Pada musim hujan jalan tanah menjadi licin.
Kurang lebih kita menempuh jalan sekitar 2 km sampailah kita di Curug Bakom. Sebuah bukit besar dengan jenis batuan kapur menjadi tempat aliran air curug. Ketinggian curug sekitar 70 m. Dari atas aliran air curug melewati satu alur dengan debit cukup besar dan lalu jatuh ke permukaan datar di pertengahan bukit dan terpecah dua. Curahan yang terbagi ini memberi kesan derasnya air. Sayang pada saat pengambilan gambar kurang besar debit airnya. Kalau satu hari sebelumnya hujan maka akan lebih banyak lagi air yang mengalir dari bagian dinding bukit yang lain. Meskipun demikian pada saat kunjungan ke curug ini sudah memberikan pemandangan yang indah.
Dari Curug Bakom menuju Curug Koja harus melewati medan yang berat. Jalan setapak menyeberangi sungai kecil, sawah, lalu mendaki bukit kecil dengan sedikit semak belukar dan pertanian lahan kering (tegalan). Usahakan ketika melalui dan menuruni jalan setapak yang dikelilingi tanaman palawija tidak membuat tanaman rusak. Perjalanan ke Curug Koja sekitar 1,5 km, namun karena medan yang cukup sulit yang menguras tenaga sehingga terasa jauh. Sampai di ujung tanah pertanian kita harus turun melalui pinggiran semak ke arah sungai. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan masuk sungai dan menyusuri hingga lokasi curug yang tidak jauh lagi.
Sungai yang kita masuki itu merupakan aliran yang menuju hulu Curug Bakom. Aliran sungai itu sendiri berasal dari Curug Koja. Dengan demikian Curug Koja berada di atas Curug Bakom dan dalam satu aliran air. Meskipun aliran sungai tersebut cukup dangkal tetapi cukup deras airnya. Airnya cukup jernih dan segar, menantang kita untuk mandi. Di legokan bagian tengah sungai kita bisa mandi disana. Sungai, curug dalam satu aliran boleh dibilang merupakan waterpark alam.
Kurang lebih 600 m berjalan sampailah kita di Curug Koja. Bentuknya mirip dengan Curug Bakom, demikian pula batuannya tetapi sedikit lebih besar dan lebih banyak airnya.
 Curug Koja memiliki ketinggian yang hampir sama dengan Curug Bakom yaitu sekitar 80 m. Kolam air di bawahnya agak dalam tetapi masih relatif aman. Airnya sejuk dingin sehingga sangat cocok untuk berendam dan bermain - main. Sekali lagi nikmati kesejukan air curug
 
Selain dari jalur Curug Bakom, jalur lain menuju Curug Koja adalah melalui Kampung Citeureup, Desa Pakemitan. Apabila melalui jalan ini kita akan menemui Curug Celeng. Sesungguhnya ini tidak murni curug, karena hanya aliran air yang melewati bebatuan besar saja. Tetapi penduduk setempat menamakan Curug Celeng. Di musim hujan air yang mengalir deras membuat curahan seperti curug kecil. Yang jelas di bagian ini juga cukup enak bermain - main air.

5. Curug Sawer-Curug Hujan-Curug Kembar Jatiwaras

Mungkin peribahasa sekali mendayung dua tiga pulau terlampui tepat dialamatkan ke perjalanan menuju Curug Sawer. Betapa tidak dalam perjalanan kita menjumpai beberapa curug yang relatif mudah dijangkau.Disamping itu aliran sungai yang dijumpai relatif dangkal dan jernih serta dasarnya berupa batuan besar unik mendorong kita untuk mencoba merasakan segarnya aliran itu.Curug Sawer berada di Desa Mandalahurip, Kecamatan Jatiwaras. 
Dari jalur Tasik - Salopa ada simpang jalan yang dikenal dengan pangkalan ojek Gintung yang menuju ke Jatiwaras. Masuk lagi ke dalam ke jalan   Desa Mandala Mekar. Jalan desa masih aspal mulus tetapi tidak lama mulai jelek. Sebenarnya jalan desa ini termasuk jalan penting karena nanti akan tembus ke jalan raya Cikatomas. Tetapi oleh pemerintah daerah belum diperhatikan sehingga kondisi jalan sangat buruk terlebih di bagian yang melintasi kebun dan hutan rakyat. Kendaraan berhenti di jembatan kecil yang merupakan batas desa Mandala Mekar dengan Mandala Hurip. Parkir kendaraan dapat di halaman rumah penduduk.


Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki diawali dari pekarangan rumah penduduk yang dekat dengan sungai.  Menyusuri pekarangan kemudian melewati lahan pertanian berupa tegalan, sawah dan kebun campur. Lahan pertanian yang terdapat di sekeliling kita menghadirkan keindahan tersendiri. Lahan sawah yang dibuat sengkedan bertingkat mengikuti garis ketinggian dengan tanaman padi yang menghijau. Ditambah lagi dengan latar belakang perbukitan menambah kesan asri dan agung.


Setelah melewati areal pertanian kita mulai masuk ke jalan setapak menurun. Di permulaan turunan kita sudah menjumpai curug kecil yang masyarakat setempat menamai Curug Awalan. Airnya yang sangat jernih dan segar sangat cocok untuk membasuh muka dan anggota tubuh yang cukup lama terkena sinar matahari siang.
 Jalan terus turun hingga mencapai semacam jeram mini yang membentuk beberapa curug. Wilayah jeram ini oleh penduduk setempat dinamakan Curug Patral. Dasar aliran sungai berupa batuan besar yang diselingi banyak rongga. Aliran ini kemudian jatuh dari ketinggian sekitar 8 m ke sungai di bawahnya. Bagian sungai yang persis tempat jatuhnya air memiliki kedalaman sekitar 2 m dan airnya jernih. Karena bagusnya tempat tersebut sering digunakan untuk anak - anak sekolah bermain - main. 
Mengingat waktu lebih baik kita prioritaskan menuju Curug Sawer.


Di sisi sawah yang brbatasan langsung dengan jurang kita dapat melihat bagian kepala dari Curug Sawer. Hati - hati jangan melangkah jauh karena bahaya jatuh ke dalam jurang di depan mata. Kita ikuti jalan setapak yang mengarah turun ke dalam hutan belukar. Sekitar 30 menit kita sudah sampai Curug Sawer. 
  Tinggi Curug Sawer diperkirakan 80 m. Di bagian atas curug air  jatuh seperti tirai tipis. Jatuhnya air tidak langsung ke tanah tetapi menimpa tebing pendek baru kemudian jatuh ke dasar kolam. Uniknya pada pancuran yang kedua ini aliran curug menjadi lebih banyak dan tebal. Hal ini karena tambahan aliran air dari anak tebing itu. Secara keseluruhan Curug Sawer ini sangat menarik. Sebaiknya untuk mengambil gambar utuh dari bagian atas dengan curahan air yang  mirip tirai terus di bawahnya arus curug yang cukup besar dan tirainya lebih tebal.
 Selesai dari mengunjungi Curug Sawer kita sempatkan melihat 2 curug yang berada di sebelah Barat dari Curug Patral. Setelah kita naik kembali ke Curug Patral, kita melewati aliran sungai dan naik ke darat sedikit lalu ke melawan arus aliran sungai hingga sampai ke Curug Hujan. Dinamakan Curug Hujan karena mungkin alirannya yang tidak terlalu deras dan jatuhnya air bertubi - tubi. Ketinggian curug ini sekitar 40 m. Kolam tempat jatuhnya air tidak terlalu besar.
Jalan sedikit ke arah belukar sungai kita akan sampai ke Curug Kembar. Bentuknya juga berupa tirai air tipis. Karena terdapat 2 curug yang sama ketinggian dan debit airnya sehingga seperti kembar. Karena keadaan sekelilingnya adalah belukar dan batuan besar sehingga dirasakan kurang menarik bagi pengunjung.
Keseluruhan curug yang kita temui di Desa Mekarhurip membuat kesan tersendiri. Perjalanan menuju Curug Sawer tidak begitu jauh dan kita masih sempat mendapatkan beberapa curug, membuat perjalanan menyenangkan,
Perjalanan pulang bisa kembali ke arah Jatiwaras atau coba tembus ke Cikatomas. Apabila mengambil jalan ke arah Cikatomas, kita akan melewati jalan yang jelek. Di tengah jalan kita masih sempat melihat satu curug kecil yang orang beri nama Curug Dedemitan. Kenapa dinamakan demikian.....iiihhhh....serammm.

6. Curug Tonjong
Ada curug alam di kota? Mungkin itu pertanyaan ketika saya katakan kepada teman bahwa ada curug di wilayah administrasi Kota dan masih terhitung dekat pusat kota. Ya, di Kota Tasikmalaya terdapat Curug Tonjong yang merupakan curug alam (bukan curug buatan di tempat rekreasi). Lokasi curug sudah ditata namun belum dikelola sebagai tempat rekreasi oleh Pemerintah Kota. Curug itu sendiri dan jalan semen beserta tangganya sudah dimiliki oleh Pemerintah Kota, namun lahan parkir yang belum tersedia. Mungkin itu yang menjadi kendala karena harus membeli lahan milik penduduk.
Jalan menuju curug ini adalah jalan dari Gobras ke arah Timus lewat Pasar Gegernoong. Curug Tonjong itu sendiri terletak di Kampung Cipeusing, Kelurahan Setiawargi, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya. Akses jalan masuknya terdapat 2 akses jalan, yang masing  - masing terdapat plang nama jalan menuju Curug Tonjong koridor1  dan koridor2.
 Menjelang masuk lokasi curug terdapat plang gapura selamat datang. Mobil hanya bisa parkir sebelum masuk jalan setapak, sedangkan motor masih bisa masuk sampai ke rumah terakhir. Kita masuk ke lokasi curug melalui tegalan milik masyarakat di atas jalan semen yang dibuat oleh Pemkot. Sudah lumayan bagus perhatian dari Pemkota. Jalan turun ke bawah dibuatkan jalan tangga semen lengkap dengan pegangan tangannya. Jarak dari permulaan jalan hingga jalan tangga sekitar 800 m. Jalan tangga menuju curug cukup curam dan dibuat meliuk. Jumlah anak tangga diperkirakan sekitar 100 lebih (tepatnya bisa dihitung sendiri). Lumayan melelahkan, tapi bagus buat kesehatan.
 Curugnya Tonjong itu sendiri bukan seperti curug lazimnya karena bentuknya merupakan turunan berbatuan hingga ke dasar bertemu dengan sungai. Dengan bentuk seperti itu justru menjadi daya tarik untuk berfoto ria dengan berbagai posisi menarik. Yang jelas dengan kerimbunan pepohonan sekitar membuat suasana asri dan nyaman untuk berekreasi. Alternatif wisata alam di tengah kota, sesuatu yang langka bahkan di kota lain sekalipun.
Dekat dengan curug, apabila kita masuk sisi lain yang mengarah ke sungai kecil terdapat gazebo untuk botram (makan - makan dengan membawa bekal sendiri). Tapi jangan lupa, tidak membuang sampah, bawa lagi saja.

8 komentar:

  1. ijin share penampakan curug dendeng Cogreg, Tasik , dari atas.....https://www.youtube.com/watch?v=LcYVcdVckiE

    BalasHapus
  2. Keren kang..hatur nuhun infona

    BalasHapus
    Balasan
    1. sami - sami kang... hatur nuhun oge kana parhatosanana

      Hapus
  3. Keren kang..hatur nuhun infona

    BalasHapus
  4. ijin share di web sy kang hehehe,, silahkan mampir ke http://www.irmanjakalesmana.web.id

    hatur nuhun

    BalasHapus