Kamis, 25 Agustus 2016

Jalan - jalan ke curug di Kabupaten Tasikmalaya-5

1. Curug Sawer Karangnunggal
Terdapat banyak nama curug sawer di Jawa Barat. Bahkan di Kabupaten Tasikmalaya saja lebih dari satu nama curug Sawer. Sebelumnya kita pernah mengunjungi Curug Sawer di Kecamatan Jatiwaras, maka sekarang kita akan berkunjung ke Curug Sawer Karangnunggal.


Curug Sawer Karangnunggal tentunya terletak di Kecamatan Karangnunggal, Desa Cikukulu, Dusun Sirnasari. Sengaja saya tambahkan nama kecamatan untuk membedakan Curug Sawer lainnya, Perjalanan dari Kota Tasikmalaya adalah dengan mengambil jalan ke arah Karangnunggal-Cipatujah. Sebelum masuk kota kecamatan Karangnunggal, kita akan menjumpai lapangan yang cukup luas dan balai desa Cikukulu. Terdapat jalan desa yang sudah beraspal bagus dan pangkalan ojek di mulut jalan. Kita masuk ke jalan desa kurang lebih 1,5 km hingga pertigaan jalan menuju Dusun Sirnasari. Selepas jalan desa kita akan masuk jalan lingkungan yang lebih sempit dan tidak beraspal. Untungnya saat itu sedang tidak hujan sehingga perjalanan saya menggunakan kendaraan roda 4 cukup lancar. Oya, kendaraan roda 4 biasa sudah bisa masuk ke jalan menuju curug. Jalan terus kurang lebih 5 km sampai di perkampungan yang banyak rumah tradisional.
Kendaraan roda 4 hanya sampai disini dan kita parkirkan kendaraan. Sedangkan kendaraan roda 2 masih bisa lebih ke dalam lagi di rumah penduduk. Selanjutnya kita jalan kaki melewati rumah penduduk. Selepas wilayah pemukiman kita masuk ladang dan sawah. Tidak ada petunjuk jalan atau jalan khusus sehingga mau tidak mau kita mengandalkan informasi GPS (Gunakan Penduduk Setempat) alias banyak bertanya. Tidak jauh lokasi curug, hanya sekitar 30 menit. Namun kondisi medannya yang harus meniti pematang sawah, ladang penduduk tentunya naik turun. Lumayan olah raga.

Akhirnya kita sampai di aliran sungai dengan undakan pertama yang bisa disebut curug mini. Dari kejauhan terlihat indah Curug Sawer dengan ketinggian sekitar 50 m yang di depannya terdapat curug mini. Untuk menuju Curug Sawer cara paling cepat dan praktis adalah memanjat tebing di curug mini tersebut. Tidak tinggi, hanya sekitar 1,5 m dan bisa kita panjat. Batuannya juga banyak yang menonjol sehingga tidak begitu sulit untuk memanjat ke atas.
 Sampai di atas barulah kita bisa menyaksikan keindahan curug Sawer. Apabila musim hujan, aliran curug deras. Saat itu saya mengunjungi curug lewat musim hujan tetapi aliran curug masih lumayan banyak. Di bawah curug terdapat kolam dangkal. Mungkin tidak cukup banyak untuk berendam, tetapi lumayan untuk main - main air. Silahkan menikmati segarnya Curug Sawer.

2. Curug Apun
Letak Curug Apun tidak jauh dari Curug Sawer, masih dalam satu lingkungan Desa. Yang berbeda adalah kampung atau dusun, yaitu terletak di Dusun Cigowok. Kita tanya ke penduduk jalan ke arah dusun tersebut sekaligus letak curugnya. Seperti halnya Curug Sawer, letak Curug Apun juga harus melewati tanah pertanian berupa sawah dan tegalan.
 Curug Apun memang tidak sederas Curug Sawer namun bentuk tebingnya yang tegak lurus dan tinggi menyimpan keindahan tersendiri. Yang saya kunjungi adalah di bagian atasnya dan tidak sempat turun ke bawah. Memang yang lebih indah adalah pemandangan dari arah bawah seperti yang saya sebutkan di awal. Untuk ke arah bawah curug harus melewati jalan yang lebih jauh dan terjal. Saat itu hari sudah sore sehingga saya tidak sempat turun ke bawah. Meskipun demikian saya cukup puas menikmati Curug Apun dari atas. Terdapat undakan yang dapat disebut curug mini sebelum terjun jatuh ke bawah.

3. Curug Nini 
Pada umumnya setiap kecamatan di wilayah bagian utara dan tengah Kabupaten Tasikmalaya memiliki curug. Salah satunya adalah wilayah Kecamatan Parungponteng yang memiliki Curug Cigodomang yang lebih dikenal dengan sebutan Curug Nini. Wilayah Kecamatan Parungponteng memang kalah tenar dibandingkan kecamatan lainnya seperti Cipatujah, Singaparna, Ciawi, dan sebagainya. Meskipun demikian wilayah ini menyimpan banyak potensi seperti pertanian, pariwisata dan sebagainya.
Curug Nini adalah salah satu potensi wisata menarik di Kecamatan Parungponteng. Letaknya di Desa  , Dusun . Sebelum masuk lokasi curug, terlebih dahulu kita masuk ke wilayah Kecamatan Parungponteng yang lebih mudah mengambil jalur jalan raya ke arah Cipatujah. Di wilayah Kecamatan Cibalong kita akan menjumpai simpang Parungponteng.
Setelah masuk jalan Parungponteng yang telah beraspal bagus kita menuju Desa Giri Kencana, Dusun Sawah Kidul. Namun demikian akses terbaik adalah melalui Dusun Sawah Ilir tepatnya dari masjid . Mobil hanya dapat parkir di halaman masjid atau pekarangan penduduk sekitar. Sedangkan motor bisa masuk lebih ke dalam. Setelah itu kita jalan kaki melalui pekarangan dan perumahan penduduk.
Jalan menuju curug pada umumnya sudah dibeton jadi sangat memudahkan untuk jalan. Jarak dari masjid tersebut hingga sampai lokasi curug 1,5 km. Sebenarnya jalan yang lebih cepat adalah melalui ladang dan pematang sawah penduduk tetapi tentunya tidak mudah karena harus menjaga keseimbangan dan lebih terjal.
Akhirnya setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan sampailah kita di Curug Nini. Bentuk dan pola alirannnya mirip dengan Curug Koja tetapi lebih pendek. Tinggi Curug Nini sekitar 40 m. Paling atas pancuran air lebih sempit lalu jatuh di sebuah batu dan kolam besar lalu mengalir lagi ke bawah dengan aliran yang lebih besar. Besarnya aliran yang kedua ini karena tidak terlalu tinggi yaitu sekitar 8 m. Di kolam yang kedua cukup lebar dan agak dalam sehingga dapat digunakan untuk berenang dan bermain air. Segar dan jernih, karena itu wajib mencoba bermain air disini

Senin, 07 Maret 2016

Jalan - jalan ke curug di beberapa kabupaten-2



1. Curug Panganten
Berada di wilayah Kabupaten Ciamis, tepatnya berada di Kecamtan Cijeungjing, Desa Kepel. Apabila daria arah Ciamis/ Bandung, di wilayah Karangkamulyan terdapat jalan bercabang yang masing – masing adalah jalan searah hingga kembali bersatu ke jalan umum. Tidak jauh dari penyatuan jalan bercabang terdapat jalan di sebelah kiri menuju SPBBE sekaligus menuju Desa Kepel. Jalanannya berupa aspal lumayan bagus. Jalan masuk ke dalam hingga bertemu dengan jembatan dan terus jalan lagi sedikit hingga bertemu belokan jalan pertama di sebelah kanan yang menuju Desa Kepel. Terdapat palang yang diatur penduduk dimana kita sukarela memberi uang lelah.
Setelah itu kita akan melewati daerah persawahan. Hanya saja sayangnya lebar jalan relatif hanya dapat dilalui 1 mobil, lebih sedikit. Jadi bila berpapasan mobil, terpaksa salah satu harus ada yang mengalah dan mencari tempat pijakan agar bisa lewat. Akhirnya pada ujung kampung dimana jalan mobil berakhir, disitulah jalan menuju curug. 
 Lokasi curug sangatlah dekat, kurang lebih 200 m dari tempat penghentian mobil. Masuk ke ladang penduduk dan langsung kita temukan Curug Panganten. Kalau hujan lumayan licin tapi masih relatif mudah dilalui.
Curug Panganten tidak begitu tinggi kurang lebih sekitar 15 m. Tetapi airnya yang sangat deras dan jatuh di kolam besar yang merupakan aliran anak Sungai Citanduy. Pada waktu musim hujan, aliran air sangat deras berwarna coklat kemerahan seperti bergejolak jatuk ke bawah. Di bagian bawah juga demikian, seperti kubangan coklat dengan aliran air sepintas agak tenang tapi arus di dalamnya cukup kencang. Karena itu pada waktu musim hujan tidak boleh berenang (lagipula airnya kotor) khawatir tertarik pusaran air. Sedangkan pada musim kemarau aliran air dari atas membentuk curug kembar. Seperti berpasangan. Karena  itu tepat disebut Curug Panganten. Selain itu, dasar kolam menjadi lebih bening dan cukup bersahabat. Karena itu waktu paling tepat datang kesinin adalah pada saat musim kemarau. Tapi jangan.kemarau panjang, karena airnya jadi hampir tidak ada.
 Nama Curug Panganten itu sendiri juga ada latar belakang cerita mistis. Di tempat itu kabarnya pernah ada kejadian sepasang pengantin yang sedang berperahu. Sang pengantin lelaki bercanda dengan menakut-nakutin pasangannya dengan menunjukkan ulat bulu. Karena ketakutan, pengantin wanita tercebut. Melihat istri barunya tercebur, sang suami menceburkan diri ingin menyelematkannya. Malang, keduanya justru hanyut terbawa arus deras Sungai Citanduy. Kedua jasad itu tak pernah ditemukan. Kabarnya, dua sosok itu sesekali menampakkan diri dengan diiringi suara gamelan di malam hari khususnya di malam jumat kliwon. Hi...hii.... tapi memang suasananya masih banyak hijauan. Sayang banyak penduduk mencari ikan dengan memberi putas (racun ikan). Nah, yang ini perlu sesekali diperlihatkan wajah sang penganten.... biar kapok...

2. Curug Kadupugur
Tidak banyak yang tahu bahwa di wilayah Kecamatan Sindangkasih (dulu bagian dari Kecamatan Cikoneng) mempunyai curug yang lumayan dapat dinikmati pemandangannya dan tentunya sensasi perjalanannya. Curug ini terletak di Dusun Kadupugur (nama curug sesuai dengan nama dusun dimana curug berada), Desa Gunungcupu, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis. Mengenai nama Desa Gunungcupu yang memberi kesan mistis, karena dekat dengan nama jimat kera dalam cerita Ramayana, ternyata ada kisah di balik nama tersebut. Kisah tentang sekelumit perjalanan hidup Prabu Ciung Wanara dari Kerajaan Galuh. Selengkapnya  silakan baca di alamat : http://blogs.unpad.ac.id/gunungcupu2010/

Kembali ke Curug Kadupugur. Akses menuju kesana dimulai dari jalan raya Sindangkasih - Cihaurbeuti. Dari lampu merah Sindangkasih terdapat belokan pertama (sebelum RM Manjabal2) yang menuju Desa Gunung Cupu. Jalan desa sudah berupa aspal bagus, tetapi kemudian agak menyempit. Terdapat beberapa belokan, tetapi kita tetap lurus ke arah Dusun Kadupugur. Batas masuk dusun ini adalah gapura sederhana dengan ornamen bentuk durian (kadu, bahasa Sundanya). Apabila kita membawa mobil, kita terpaksa berhenti di jalan aspal terakhir, persis di depan sebuah masjid.
 Untuk kendaraan motor dapat terus naik ke atas berupa jalan semen. Sedangkan untuk yang membawa mobil terpaksa harus jalan kaki. Tidak mengapa hitung - hitung olahraga. Jalan kaki atau naik motor, terus saja hingga bertemu dengan hamparan sawah dimana di tengahnya terdapat jalan semen. Masyarakat menyebutnya jalan PNPM karena dibangun dengan bantuan program PNPM. Kita masuk ke jalan tersebut. Cukup lebar untuk kendaraan motor. Pemandangan kanan - kiri jalan cukup indah karena berupa hamparan sawah dan kebun penduduk. 
 Perjalanan dengan menggunakan motor berhenti di rumah penduduk terakhir sebelum masuk ke wilayah semak belukar dan kebun penduduk. Jarak dari tempat parkir mobil ke rumah penduduk ini sekitar 600 m. Selebihnya kita berjalan kaki menerobos semak belukar dan kebun penduduk. Tidak jauh dari penghentian motor, sekitar 400 m. Hanya saja lumayan agak terjal. Kita akan bertemu dengan aliran sungai dari curug, dapat diseberangi. Menjelang sampai lokasi curug ada bagian jalan yang longsor. Oleh penduduk sudah diperbaiki dengan menaruh  karung berisi tanah. Tetapi kita tetap harus hati - hati. 
 Tak lama kemudian kita akan menjumpai Curug Kadupugur. Lumayan indah. Curug itu terbagi dua oleh sebuah batu. Aliran sebelah kiri sangat deras, sedangkan satu lagi seperti air saweran. Ketinggian curug hanya sekitar 8 m. Hati - hati jatuhan air sangat deras, lebih baik mandi di jatuhan air yang seperti saweran. Itupun lumayan kencang. Sayang, kalo musim hujan airnya agak kotor karena lumpur. Oya, kalau malam habis hujan deras, anda harus hati - hati. 
 Di atas curug sebenarnya berupa aliran air sungai. Kata penduduk ada lagi curug terus ke hulu. Sayang saya tidak bisa lanjut mencari curug tersebut. Nanti kalo ada kesempatan akan saya ceritakan. 

3. Curug Bojong
Curug Bojong
Kawasan wisata Pangandaran dikenal dengan wisata pantai dengan beberapa spot pantai indah seperti Pantai Pananjung, Pantai Madasari, Pantai Karapyak, dan sebagainya. Kemudian wisata sungai melalui lorong tebing yang menakjubkan yaitu Green Canyon dan Citumang. Satu jenis wisata yang tidak kalah menarik di wilayah Pangandaran adalah wisata curug atau air terjun. Curug Bojong adalah salah satu curug indah di wilayah Pangandaran.
Lokasi Curug Bojong terletak di Desa Sukahurip, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Untuk sampai ke lokasi tersebut tidak sulit. Apabila datang dari arah Ciamis, maka akses ke curug adalah setelah melewati SPBU Babakan Pangandarn atau kurang lebih 1 km sebelum bundaran Pangandaran. Di seberang depan jalan masuk terdapat penunjuk arah di papan kecil dengan tulisan Curug Bojong.
Jalan masuk ke dalam sudah berlapis aspal cukup baik. Tetapi itu hanya sebentar karena kemudian berganti menjadi jalan desa berlapis semen. Jalan terus saja mengikut jalur utama, jangan belok ke jalan - jalan lingkungan yang ada. Pada tanjakan menjelang lokasi yang cukup curam harus hati - hati apabila dalam kondisi basah. Meskipun jalan semen tetapi apabila mesin kurang bagus dan ban mobil kurang menggigit akan mengalami kesulitan. Setelah itu kemudian jalan tanah sedikit hingga tempat parkir mobil. Total jarak dari simpang jalan masuk hingga tempat parkir mobil sekitar 5 km.
Kendaraan motor masih bisa terus hingga tempat parkir motor yang berada di pintu masuk ke lokasi wisata curug. Sedangkan untuk yang membawa mobil harus jalan kaki sekitar 800 m hingga pintu masuk tersebut dengan kondisi jalan bergelombang naik turun, lumayan olah raga jalan kaki. Kondisi sekitarnya adalah hutan yang lumayan lebat. Disini sebenarnya masih terdapat babi hutan dan kera tetapi agak jauh dari trek yang dilalui pengunjung.
Tempat parkir motor sekaligus juga tempat istirahat lumayan nyaman. Kawasan wana wisata Curug Bojong adalah berada dalam wilayah Perhutani tepatnya di dalam RPH Pangandaran BKPH Pangandaran KPH Ciamis. Sementara ini tidak ada pengenaan biaya baik untuk parkir maupun untuk karcis masuk. Tetapi apabila ada petugas yang kebetulan sedang "bebersih" tidak ada salahnya kita berikan sekedarnya.
Selanjutnya kita masuk melalui jembatan pendek dan menyusuri jalan tanah sekitar 100 m hingga bertemu sungai. Letak curug di seberang sungai dan sudah terlihat bagian curug dari tempat sebelum menyeberang. Sungai yang akan diseberangi adalah sungai Cibojong dan akan bertemu sungai Cisawangan. Sungai dengan lebar sekitar 4 meter ini memiliki  kedalaman pada kondisi normal antara 50 cm - 1 m. Apabila hujan lebat dan aliran air cukup deras, sebaiknya kita berhati - hati dalam mencari pijakan.
Akhirnya sampailah kita di lokasi curug. Cukup membuat takjub karena bentuk curug yang berbentuk bongkahan batu. Tinggi curug sekitar 30 m dan aliran air terpecah jatuh merata ke dinding batu. Apabila dari pandangan depan, aliran air yang paling deras adalah sebelah kanan. Air terjun ke kolam atas terlebih dahulu dengan kedalaman kolam sekitar 1 m, lalu kemudian mengalir dan jatuh di kolam kedua. Air curug Bojong masih sangat jernih dan sejuk. Sangat cocok kalo untuk bermain - main. Meskipun bagian dasar curug tidak terlalu dalam tetapi tetap harus hati - hati mengingat aliran air yang lumayan deras. Selanjutnya nikmati keindahan pemandangan curug dan segarnya air curug.

4. Curug Sawer Majalengka
Nama curug sawer umum digunakan untukjenis curug yang cukup deras namun curahan airnya menyembur seperti shower atau sawer untuk istilah sunda. Di beberapa kabupaten di Jawa Barat mempunyai nama curug sawer, seperti di Kabupaten Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor, Kuningan, Sumedang dan Majalengka.
Curug Sawer di Kabupaten Majalengka mempunyai debit air yang cukup deras dan tentunya dengan pemandangan yang indah alami. Terletak di Desa Argalingga, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Akses jalan searah dengan Curug Muarajaya. Dimulai dari jalan raya Cikijing - Majalengka. Dari arah kota Majalengka kita akan melewati kota kecamatan Maja dan tidak jauh kemudian kita menemukan plang Curug Muarajaya, di wilayah Kecamatan Argapura.
 Jalan masuk sudah berupa jalan aspal mulus dengan kondisi topografi naik turun bukit. Sangat memukau pemandangan sekitar perjalanan yang didominasi pertanian sayuran. Perjalanan ke Curug Sawer terus mengikuti jalan aspal hingga bertemu dengan Bumi Perkemahan Cipanten yang bagian dari Taman Nasional Gunung Ciremai. Di depan bumi perkemahan tersebut terdapat jalan bebatuan ke arah pertanian. Kondisi jalan meskipun kurang baik tetapi masih dapat dilalui kendaraan roda 4. Ujung dari jalan ini adalah areal pertanian dimana kendaraan roda 4 harus diparkirkan di tempat ini. Sedangkan kendaraan roda 2 masih dapat menjangkau kurang lebih 100 m lagi. Tidak ada tarif khusus untuk parkir mobil atau motor, tetapi sebaiknya menggunakan standar tempat wisata yaitu Rp. 5.000 untuk mobil dan Rp. 2.000 untuk motor. Petugas parkir adalah petani setempat.
Lokasi tempat parkir adalah tanah pertanian penduduk, sedangkan lokasi curug berada di wilayah kehutanan yang dikelola oleh Perhutani. Tepatnya di bawah pengelolaan RPH Argalingga BKPH Maja KPH Majalengka.
Dari tempat parkir kita masuk ke jalan setapak yang sudah dibuat oleh penduduk setempat. Jarak dari tempat parkir ke lokasi curug kurang lebih 1 km. Kondisi jalan pada awalnya cukup baik, tetapi kemudian kita melewati jalan tanah terjal dengan merayap turun. Lumayan melelahkan.
Sebenarnya di lokasi curug terdapat 5 curug. Curug yang paling banyak dikunjungi adalah curug ketiga.
Curug kesatu dan curug kedua letaknya berdekatan namun karena letaknya yang cukup ekstrim dan pernah terjadi kecelakaan yang menewaskan beberapa orang kedua curug tersebut ditutup.Daerah sekitar curug kesatu dan kedua cukup menyeramkan sehingga memberi inspirasi untuk penganut kepercayaan tertentu untuk bertapa di dekat curug tersebut.Curug keempat dan kelima bisa dikunjungi tetapi letaknya harus melewati jalanan terjal dan lumayan jauh serta harus didampingi oleh penunjuk jalan karena sama sekali tidak ada petunjuk arah.
Kembali ke Curug Sawer yang merupakan curug ketiga, setelah melewati jalan setapak yang terjal akhirnya sampai ke lokasi curug. Apabila kondisi cuaca akan turun hujan lebat sebaiknya batalkan rencana ke curug ini. Pertama karena tebing sekitar jalan rawan longsor, kedua kondisi jalan yang licin dan curam berbahaya untuk dilalui.
Curug Sawer memiliki ketinggian sekitar 40 m dengan aliran air yang cukup deras dan seakan - akan menyembur. Kolam di bawah curug cukup aman untuk mandi dengan kedalaman sekitar 1,5 m.
Rangkaian Curug Sawer  mempunyai cerita yaitu tentang kehadiran seorang sakti yang berasal dari kaki gunung Ciremai. Orang sakti tersebut dianggap sebagai leluhur masyarakat Argalingga. Pada waktu tertentu, orang tersebut mengadakan upacara Saweran di sungai Cipada untuk mendapat berkah Tuhan bagi dirinya dan semua keturunannya. Setelah ia berusia lanjut, ia hanya melakukan tapa selama bertahun-tahun hingga wafat. Kisah tentang petapa tersebut setelah mati, jasadnya tidak hancur melainkan menjelma seekor ular raksasa yang kemudian hidup secara gaib dan menjadi penjaga kawasan tersebut. Selama tapanya, terjadi banyak peristiwa alam yang luar biasa sehingga di sepanjang aliran sungai muncul lima buah curug yang airnya memancar menyerupai upacara saweran. Itulah sebabnya, kelima rangkaian curug ini dinamakan Curug Sawer.

5. Curug Ibun
Sebenarnya di tengah perjalanan menuju Desa Argalingga terdapat tempat wisata baru yaitu Green Canyon Curug Ibun Pelangi. Terletak di Desa Sukadana, Kecamatan Argapura, terletak di pinggir jalan kecamatan Argapura. Terdapat spanduk selamat datang dan area parkir motor dan sebagian mobil. Parkir mobil lainnya adalah di sekitar tempat wisata. Sebenarnya tempat wisata ini telah berdiri sejak tahun 2010, tetapi pada tahun 2013 pernah ditutup karena ada kecelakaan yang menewaskan 5 orang. Tahun 2015 dibuka kembali dengan kapasitas terbatas.
Tempat wisata ini dikelola oleh masyarakat setempat. Tidak ada karcis masuk, hanya kita perlu membayar sukarela untuk pemandu wisata. Khusus untuk parkir kendaraan, penduduk setempat mengutip biaya Rp. 5.000 untuk motor dan Rp. 10.000 untuk mobil.
Jalan setapak dari area parkir ke lokasi Curug Ibun sudah ditata dengan baik berupa jalan semen dan jalan tanah dengan undak tangga. Setelah kita turun melalui jalan setapak sampailah di lokasi Curug Ibun Pelangi. Disebut Curug Ibun Pelangi, karena pada sekitar jam 10 kita bisa melihat aura pelangi di sekitar curug.
Curug Ibun jatuh dari aliran sungai di atas ke pangkal aliran sungai yang melewati dinding tebing tinggi. Tebing tinggi ini merupakan miniatur Green Canyon di Kabupaten Pangandaran. Cukup indah.
Di area sekitar curug dibatasi oleh pagar bambu karena sangat berbahaya apabila kita lengah berdiri di batuan yang licin akan melayang jatuh dari ketinggian 80 m ke dasar bebatuan. Kita bisa memotret pemandangan sungai yang berujung  pada curug yang jatuh ke sungai di bawahnya.
Di bagian bawah curug kita bisa berjalan dengan jalan tangga dari tanah yang cukup licin. Selanjutnya kita dengan hati - hati menuju Green Canyon. Apabila didampingi oleh pemandu wisata akan lebih nyaman karena lebih mengetahui tempat pijakan batuan dan tentunya lebih aman untuk menuntun ke titik tertentu yang bagus untuk berfoto ria. 

6. Curug Cibali
Secara administratif curug ini terletak di Desa Cikondang, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka. Namun, untuk menuju ke lokasi curug tidak dapat melalui jalan Desa Cikondang karena buntu dan sulit dilalui. Jalan yang lebih baik adalah melalui jalan di Desa Sadapaingan, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Majalengka. Jalan tersebut ditandai dengan gapura dan kita tinggal mengikuti jalan aspal yang lumayan baik. Sampai di tikungan dimana terdapat jalan menuju kebun penduduk kita berhenti untuk memarkir kendaraan. Tempat parkir khusus tidak ada, jadi kita terpaksa mencari tempat yang agak lapang dan aman untuk tempat parkir.
Selanjutnya  kita  masuk ke jalan setapak melewati sawah dan ladang. Jalan setapak berakhir pada sungai kecil dan kita menyeberanginya. Di wilayah sebrang sungai tidak ada trek khusus sehingga kita harus mencari jalan sendiri menyeruak di antara alang ilalang yang mulai menanjak naik. Curug Cibali dari kejauhan terlihat sedikit yaitu bagian atasnya. Tidak jauh kurang lebih 500 m dari sungai kecil dan tidak terlalu sulit akhirnya kita menemukan Curug Cibali.
Aliran air Curug Cibali secara umum tidak deras. Hanya pada saat turun hujan lebat maka aliran air menjadi cukup deras. Sayang, karena bagian atas sudah terbuka dari tutupan vegetasi dan digarap untuk perladangan maka air curug menjadi agak keruh. Ditambah lagi kolam tempat jatuhnya air di bagian dasarnya berlumpur. Padahal seharusnya pemandangan curug indah karena bentuk batuan tempat aliran curug berupa batuan hitam landai dan berundak. Andai air curug jernih dan deras maka akan terlihat megah.