Senin, 07 Maret 2016

Jalan - jalan ke curug di Kabupaten Tasikmalaya-3



1. Curug Cipinaha
Curug Cipinaha mulai mendapat perhatian pengunjung yang umumnya berkendaraan motor. Curug ini  relatif mudah dijangkau dengan berkendaraan motor.   Sedangkan apabila menggunakan menggunakan mobil, kita harus menitipkan di halaman warung yang berada tepat menjelang jalan turunan. Kita bisa menggunakan jasa ojek, dengan tarif Rp. 10.000. Kalau tidak kita harus berjalan sejauh 2 km dengan jalan ekstrim menurun, lumayan nanti pulangnya akan sangat menguras tenaga.
Curug Cipinaha berada di Dusun (Kampung) Sukasirna, Desa Malatisari, Kecamatan Gunung Tanjung. Akses  menuju kesana, dari kota Tasikmalaya ke Manonjaya kemudian ambil jalan ke arah Gunung Tanjung. Sampai di pasar Gunung Tanjung  kemudian belok kiri ke arah jalan Desa Cikembang kemudian Desa Poponcol dan terakhir jalan Desa Malatisuka. Kurang lebih jaraknya 7 km dengan kondisi jalan pertama berupa aspal lalu jalan semen yang keduanya dalam kondisi bagus. 
 Jalan ke arah curug seperti disampaikan di awal kita harus menggunakan motor hingga tiba di tempat parkir yang disediakan penduduk. Ongkos parkir motor Rp. 5.000, sedangkan parkir mobil di depan warung, di sebelah atas belum ada biaya parkir (atau mungkin bisa diganti dengan membeli dagangan mereka). Di depan tempat parkir motor kita disuguhi pemandangan indah berupa sawah yang bertingkat – tingkat dan tentunya udara sejuk dingin. Selanjutnya kita berjalan kaki sedikit ke jembatan dan turun ke kali atau sungai kecil. Kita bisa saja melewati pematang sawah tetapi itu akan memakan waktu dan tentunya berpotensi merusak pematang terutama musim hujan. 
 Jalan mengikuti aliran sungai ke arah hulu dan kemudian naik ke tanah. Tidak begitu jauh. Akhirnya sampai di bagian awal curug berupa daerah berbatuan yang dialiri air dari arah curug dan tentunya kita langsung menyaksikan megahnya Curug Cipinaha itu. Akan terlihat juga banyak pengunjung terutama hari libur. Ya, curug ini sudah menjadi daya tarik tersendiri karena cukup tinggi dan deras serta dapat bermain di kolamnya.
Di lokasi curug terdapat kolam 2 tingkat. Tingkat pertama yang paling luas dan dialiri jatuhan air curug dari kolam pertama. Di kola ini kita dapat berendam atau berenang karena cukup luas. Ada bagian yang cukup dalam yaitu sekitar 1,5 m sehingga harus hati – hati. Tentunya karena di daerah pegunungan menyebabkan suhu air menjadi dingin sekali. Satu lagi kolam berada di atas kolam pertama yang merupakan cekungan tempat menampung jatuhnya air curug besar. Kolamnya agak sempit jadi hanya bisa berendam saja dan hindari tempat jatuhnya air curug karena akan mengena badan kita cukup keras. Tidak ada akses ke sana kecuali harus merayap di dinding berbatu dengan tinggi sekitar 1 m yang lumayan licin. Berbahaya bagi yang tidak biasa memanjat tebing. Dan nanti untuk turun tiada lain kecuali terjun ke kolam. Nikmati sensasinya
 Di sekitar curug sudah dibuatkan jalan setapak oleh penduduk menuju tempat curug. Terdapat juga 2 warung di sekitarnya. Sayang, pengunjung melupakan kebersihan sehingga banyak sampah berserakan baik di jalan maupun di aliran curug. Kebiasaan makan dan minum di dalam kolam curug harusnya dihindari. Sekali lagi penulis selalu mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan sebaiknya gunakan seminimal mungkin sampah plastik.
2. Curug Cinunjang – Curing Kancil – Curing Jawa
Lokasi Curug ini berada dalam satu kecamatan dengan Curug Sawer dan Curing Aboh dari Tasikmalaya, yaitu Kecamatan Jatiwaras, sekitar 1 jam dari Tasikmalaya. Rute yang bisa di ambil ada dua arah yaitu : 1. Dari jalan arah Salopa yang berupa jalan aspal bagus hingga simpang jalan yang dikenal dengan pangkalan ojek Pasir Gintung yang menuju ke Jatiwaras
2. Rute lainnya adalah masuk dari daerah Cibalong kemudian belok kiri ke arah Bantar Payung hingga melintasi jembatan gantung di atas aliran sungai Ciwulan. Setelah itu kita menemukan jalan hotmiks hingga simpang menuju kampung Cinunjang dan berlanjut dengan jalan aspal berbatu.
Letak Curug Cinunjang adalah di Dusun Cinunjang, Desa Mandala Mekar, Kecamatan Jatiwaras. Apabila telah sampai di daerah Cinunjang, kita menuju ke sebuah warung yang lumayan besar untuk menitipkan kendaraan. Perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak dan jalan pematang sawah serta ladang menuju daerah semak belukar. Disamping itu kita juga sedikit menyisir pinggir jurang yang membutuhkan konsentrasi. Tepatnya letak lokasi curug lebih baik sambil tanya penduduk karena tidak ada jalur khusus ke curug. Meskipun demikian jalan menuju curug tidak seberapa jauh kurang dari 1 km.
Sampailah kita di Curug Cinunjang yang berada di sekitar pepohonan dan belukar. Cukup asri dan rindang. Curug Cinunjang ini  mempunyai ketinggian sekitar 40 meter dengan aliran air yang jernih dan lumayan deras. Kita dapat bermain air di kolam tempat jatuhnya air. Posisi jatuhnya air agak melebar tidak terkonsentrasi pada satu tempat sehingga lebih seperti saweran air meskipun dengan jumlah yang agak deras.
Di sekitar curug terdapat banyak batu-batu besar yang berserakan di aliran sungai. Beberapa batuan merupakan batu alam yang cukup bernilai untuk dijadikan batu hiasan. Perlu waspada terhadap cuaca. Apabia mendung tebal dan akan turun hujan lebat sebaiknya segera berkemas karena kalau kita lihat kondisi tebingnya rawan longsor. Kondisi air pada saat musim kemarau mengalir sedikit bahkan cenderung kering, meskipun itu tidak mengurangi keindahan dari curug Cinunjang ini.
 Bila ada anak – anak bolang (sebutan untuk anak – anak penduduk setempat yang suka main di alam bebas) kita bisa minta antar ke Curug Jawa. Hal tersebut karena jalan menuju kesana harus melalui sungai, semak belukar yang tak mungkin dikenali oleh bukan orang setempat. Belum lagi kalau kita pulang bisa – bisa tersasar. Dan yang paling penting adalah daearah cukup bahaya dengan tebing dan batuan yang licin.
Di perjalanan menuju Curug Jawa kita terlebih dahulu menemukan curug kecil yang oleh penduduk setempat dinamakan Curug Kancil. Meskipun pendek tetapi aliran airnya (yang berasal dari aliran Curug Cinunjang)lumayan deras. Letaknya yang berada di antara batuan dan semak belukar memberi kesan liar. Curug ini berada di pertengahan jalan menuju Curug Jawa. Oleh karena itu lebih baik simpan waktu jangan dulu bermain air disini meskpun aliran airnya sangat menggoda.
 Perjalanan menuju Curug Jawa cukup melelahkan karena harus menyusuri melewati daerah semak belukar lalu sungai yang menurun dan licin, agak berbahaya. Kurang lebih memakan waktu kurang dari 1 jam, tetapi waktu pulang akan lebih lama karena harus merangkak naik dari daerah batuan di aliran sungai. Sekali lagi perhatikan cuaca, karena apabila turun hujan deras lebih baik urungkan niat kesana.
Sampai di Curug Jawa kita benar – benar puas. Ya, puas karena petualangannya juga keindahan curug serta segarnya air. Tidak begitu tinggi, masih di bawah Curug Cinunjang, mungkin sekitar 30 m. Entah kenapa disebut Curug Jawa, tak ada yang bisa menjawab. Mungkin ditemukan oleh orang Jawa.
3. Curug Manakara
Curug Manakara disebut juga Curug Cibarulak karena berada di dusun Cibarulak. Kampung atau dusun Cibarulak terletak di Desa Mekarjaya, Kecamatan Sukaraja. Letak desa tersebut dijangkau dari arah Tasikmalaya atau Kawalu terdapat simpang jalan menuju Cibalanarik. Kemudian masuk ke jalan menuju Desa Cijoho atau bisa juga dari arah Desa Galumpit ke arah desa Mekarjaya. Akses jalan dari daerah Galumpit menuju dusun Cibarulak sekitar 7 km dengan jalan aspal sekitar 1 Km dan di lanjutkan dengan jalan aspal rusak bercampur batuan, dan terakhir mendekati lokasi curug di daerah perkebunan karet disambung dengan jalan beton. 

Di sekitar jalan Desa Cijoho berupa campuran kebun dan hutan sejenis milik penduduk, tanah pertanian dan daerah berbatuan. Pemandangan indah dari atas ketinggian puncak bukit di jalan menuju lokasi semakin menambah semangat. Setelah masuk ke wilayah Desa Mekarjaya tidak lama kita akan menjumpai papan petunjuk kecil yang menunjukkan arah kampung Cibarulak. Selanjutnya kita memasuki wilayah perkebunan karet PT GUNUNG. Jalan di perkebunan lumayan terawat baik meskipun berupa jalan beton. 
 Kurang lebih jalan di kebun karet sekitar 300 meter kita akan menemukan simpang jalan dan ambil arah kanan. Tidak jauh dari sana persimpangan, di sebelah kiri kita akan melihat Curug Manakara. Sayang waktu berkunjung kesini air yang menuju curug dibendung dan dialihkan ke daerah kampung. Oleh karena itu untuk menikmati curug ini dengan debit air yang besar harus berada di tengah – tengah musim penghujan. Di bawah curug terdapat kolam untuk berenang yang tidak terlalu dalam.
4. Curug Ciwatin
Curug Ciwatin merupakan rangkaian terakhir dari Curug Cikoja dan Curug Cibakom dan aliran airnya akan bermuara di sungai Ciwulan yang letaknya tidak jauh. Letak Curug Ciwatin adalah di kampung Nusawangi, Desa Linggalaksana, Kecamatan Cikatomas.
 Untuk menuju curug ini sangat mudah, yaitu dari masjid atau alun-alun Cikatomas lalu belok kanan. Kondisi jalan cukup bagus berupa aspal. Perjalanan kurang lebih 6 km dari simpang, terus saja dengan beberaka kali kelokan hingga kita bertemu dengan simpang menuju jembatan Parung Mandala. Kita tetap terus hingga bertemu dengan jembatan yang di bawahnya adalah aliran sungai dari curug menuju Sungai Ciwulan. Dari jembatan sudah bisa terlihat Curug Ciwatin. Kita tinggal turun ke sungai yang penuh dengan batuan sedang hingga besar dan hanya sedikit trekking yaitu kurang dari 5 menit untuk sampai ke tujuan. Ketinggian curug ini hanya sekitar 10 m saja. Di bawahnya terdapat kolam besar dapat digunakan untuk berenang dan bermain air dengan kedalaman sekitar 1 meter. Airnya curug sangat jernih sehingga sangat nikmat main air disana. Apabila kondisi air sedang banyak, curahan air dari atas tebing akan menambah sensasi berenang di sana.

Selasa, 19 Januari 2016

Jalan - jalan ke curug di beberapa kabupaten-1



1.       Curug Cibolang (Curug Tujuh)
Nama Curug Tujuh merujuk pada jumlah curug sebanyak 7 yang tersebar di lokasi wana wisata Cibolang. Tempat ini juga disebut bumi perkemahan Cibolang. Letak lokasi wisata ini berada di Desa Sanding Taman, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis. Untuk memasuki lokasi ini adalah dengan mengambil jalan Panjalu – Cirebon. Jalan masuk ke lokasi ditandai dengan plang seng yang sudah kusam . Selanjutnya jalan menuju curug sempit dan menanjak. Tanjakan jalan cukup curam dengan kondisi aspal kurang baik. Oleh karena itu sangat disarankan menggunakan kendaraan yang sehat dan cukup kuat menanjak. 
Akhir perjalanan menggunakan kendaraan roda 4 adalah tempat parkir yang kurang luas dan kedai – kedai minuman yang menjual makanan rigan dan minuman. Kendaraan roda 2 masih dapat dikendarai hingga pintu gerbang. Sedangkan pengguna roda 4 harus berjalan kurang lebih 600 m dari tempat parkir ke pintu gerbang. Tidak terlalu penat apalagi di sebelah kanan kita disuguhi pemandangan indah berupa sawah, ladang dan kebun campuran yang terhampar di lembah dan bukit.
Di pintu gerbang seperti biasa kita harus membeli karcis untuk orang dewasa dan anak – anak. Setelah pintu gerbang kita mulai menapaki jalan setapak yang cukup tertata menuju bumi perkemahan. Medan perjalanan masih landai sehingga belum menguras tenaha. Setelah 500 m kita akan menjumpai tempat  perkemahan atau bumi perkemahan. Capek dan haus ? Jangan khawatir karena kita menjumpai warung dan beberapa tempat duduk. Sebaiknya memang kita harus beristirahatkan untuk memulihkan tenaga karena perjalanan selanjutnya medannya curam dan cukup jauh. Apalagi yang berniat menaklukkan ke tujuh curug yang letaknya berjauhan dan beberapa di antaranya belum ada trek jalan sehingga akan menyulitkan dan menyita waktu.
Sesuai dengan urutannya tentu curug yang mudah dijumpai adalah curug 1 (satu). Jarak perjalanan dari bumi perkemahan ke curug satu kurang lebih 500 meter dengan jalan yang menanjak cukup tinggi dan berliku. Lumayan melelahkan tapi menyehatkan karena kita sambil menghirup udara segar nan sejuk. Sangat cocok yang ingin menguruskan badan. Kalaupun kita ingin istirahat, di beberapa tempat terdapat warung minuman.
 
Curug pertama mempunyai ketinggian sekitar 50 m dengan 2 tingkat dan air yang tercurah cukup deras membuat tampak indah dilihat. Air jatuh pada kolam yang cukup dangkal sehingga pengunjung banyak yang bermain – main disana. Rasakan kesegaran air terjun yang lumayan dingin jatuh ke tubuh kita. Benar – benar sensasi kesegaran yang tidak didapatkan bagi yang tinggal di perkotaan. Pada musim kemarau debit air berkurang drastis sehngga terasa kurang puas untuk bermain air. 


2.       Curug Cipataunan
Tidak banyak orang tahu bahwa di perbatasan Kabupaten Ciamis dengan Kabupaten Pangandaran terdapat curug yang cukup memikat. Terletak di Desa Ciampanan , Kecamatan Cidolok, Kabupaten Ciamis. Curug Cipataunan belum mendapat sentuhan infrastruktur yang memadai. Untuk menuju kesana bisa ditempuh melalui jalur Cineam – Cidolok – Cimaragas.  Setiba di Desa Ciampanan akan kita jumpai plang sederhana yang menunjukkan arah letak curug. Jalan dari simpang Desa Ciampanan menyempit berupa jalan semen.
Kendaraan roda 4 masih dapat memasuki jalan desa hingga jalan buntu. Meskipun motor masih bisa jalan lebih jauh lagi tetapi sebaiknya demi keamanan kita titipkan di rumah penduduk. Selanjutnya kita berjalan kaki melalui lahan pertanian penduduk. Sama sekali tidak ada petunjuk letak lokasi curug selain kita harus bertanya pada penduduk. Bagian terakhir yang  harus dilalui adalah kebun salak. Untuk itu kita harus ekstra hati – hati karena lereng tanah yang menurun sementara di sekililing kita adalah pohon salak yang banyak duri. Dari kejauhan diantara kerimbunan pohon kita melihat Curug Cipataunan yang cukup deras. 
Jarak dari tempat penitipan ke lokasi curug sekitar 1,5 Km dengan medan dari landai hingga cukup curam menjelang dekat lokasi curug. Dibandingkan dengan curug lainnya yang berada di pedalaman, lokasi Curug Cipataunan masih tergolong standar sehingga masih bisa dijalani oleh rombongan keluarga. Sedangkan pemandangan sekitarnya hanya berupa kebun penduduk yang didominasi oleh kebun salak.
Curug Cipataunan sesungguhnya terbagi menjadi 2 bagian yang jaraknya berdekatan. Satu curug warna airnya keruh karena erosi tanah sedangkan satu lagi cukup jernih. Ketinggian curug sekitar 60 m. Aliran curug yang jernih lebih deras dan jatuh ke sebuah tonjolan batu besar kemudian jatuh ke dasar curug. Sedangkan aliran curug yang keruh langsung jatuh dari  ketinggiannya. Di bagian curug yang jernih kita dapat bermain – main air dan mandi. Hanya sayang daerah sekitar curug bercampur lumpur sehingga kaki akan kotor setelah mandi.
Apabila kita hendak ke curug ini pengunjung sebaiknya menggunakan sandal gunung karena medannya yang harus melalui kebun salak yang menurun dan menjelang lokasi curug banyak lumpur. Selebihya nikmati perjalanan yang cukup melelahkan dan air terjun menjadi jawaban atas kelelahan kita tersebut.

3.       Curug Bilik
Dibandingkan dengan curug lainnya Curug Bilik adalah yang paling mudah dijangkau karena langsung berada di bawah jembatan jalan umum. Dari sisi jalan kita juga sudah dapat menikmati pemandangannya. Hanya sayang karena dekat dengan pemukiman kejernihan airnya kurang bagus.
Lokasi Curug Bilik berada di Desa....., Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran. Untuk mencapai lokasi tersebut dapat melalui 3 jalur yaitu jalur Salopa, jalur Pamarican dan jalur Cineam. Jalur Salopa – Langkaplancar memakan waktu 1,5 jam sedangkan jalur Pamarican – Langkaplancar sekitar 2 jam, meskipun demikian kedua jalur tersebut kondisi jalan aspalnya relatif baik. Sedangkan jalur Cineam – Langkaplancar dapat ditempuh dalam waktu 45 menit. Hanya saja jalannya relatif buruk dan setelah berada di Kecamatan Cineam sudah bagus. Pada musim hujan tidak dapat dilewati oleh kendaraan roda 4 standar, harus yang memiliki spesifikasi off-road.
Dinamakan Curug Bilik kemungkinan karena bentuk aliran air yang jatuh pada batuan seperti bentuk gubuk (bilik : bahasa sunda). Keunikan tersebut apabila kita melihat dari jarak dekat. Sebenarnya susunan batu – batu besar yang mengarahkan aliran air curug menjadi berbelok memberikan pemandangan yang cukup indah. Tetapi karena sampah domestik dan lumpur sekitar tempat jatuhnya curug akan memberikan kesan jorok. Meskipun demikian cukup banyak anak – anak yang bermain – main di curug dan sekitarnya.
Di pinggir jalan dekat jembatan terdapat saung. Kita dapat menikmati pemandangan curug sambil menyeruput kopi atau makan kudapan ringan. Udara di lokasi curug cenderung hangat karena sudah ketinggian tempatnya sudah agak rendah tetapi masih tetap segar karena suasana pedesaan yang masih kental.
Di sebelah depan curug terdapat kelompok batuan besar. Kalau kita berdiri di batuan besar kita dapat melihat pemandangan sawah dan curug. Kita bisa memandang lepas ke kedua pemandangan tersebut dan menikmati sensasi berada di atas batu besar. Saat berada di batu besar tersebut akan memberikan suasana jiwa yang tenang sambil mengagumi ciptaan Tuhan yang demikian indah.

4.       Curug Muarajaya
Curug Muarajaya merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang terletak di Desa Argamukti, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Akses menuju lokasi berada di jalan utama Cikijing – Majalengka. Jalan masuk dari jalan raya adalah setelah pusat kecamatan Argapura dan sebelum pusat Kecamatan Maja. Arah masuk jalan ke curug ditandai plang kecil. Selanjutnya kita masuk ke jalan lokal dengan kondisi aspal cukup baik namun lebar jalan pas dua mobil berpapasan. Tidak lama masuk ke jalan menuju curug arah jalan mulai mendaki dengan kemiringan agak curam. Untuk masuk lebih jauh kondisi kendaraan harus benar – benar sehat karena medan jalan yang curam, berkelok dan sempit. 
Ketinggian tempat curug ini terbilang tinggi yaitu di atas 1.000 m. Kabut sering turun di perjalanan menuju curug tepatnya di wilayah areal tanaman sayur – sayuran. Dinginnya udara sangat menusuk sepanjang jalan mendaki sebelum lokasi curug.  Sementara pemandangan berupa kebun hortikultura terutama sayuran terhampar dengan bentuk lahan yang bertingkat. Pemandangan serupa mirip dengan di wilayah Lembang dan Cipanas Cianjur.
Ketika sampai di wilayah pemukiman kita harus banyak bertanya lokasi curug karena minimnya penunjuk jalan. Lokasi curug sudah merupakan tempat wisata milik Pemerintah Kabupaten Majalengka bahkan sudah bersertipikat yang dinamakan Wisata Alam Curug Muarajaya. Tempat wisata tersebut sudah cukup tertata. Pertama – tama kita jumpai lahan parkir mobil dan sederet warung. Untuk motor bisa dibawa masuk ke dalam gerbang pertama dan disediakan lahan parkir. Selanjutnya pengunjung hanya diperbolehkan jalan kaki melalui jalan tangga menurun yang terbuat dari semen dan jalan dari paving block di daerah datar. Kanan kiri jalan adalah tanah pertanian sayuran. Di sebelah kanan ada bukit batu besar sangat bagus untuk latar belakang pengambilan foto.


Perjalanan di jalur pejalan kaki ini berakhir pada suatu rest area. Di tempat ini pengunjung sebaiknya beristirahat sejenak karena berikutnya jalan akan menurun dengan arah yang curam dan banyak anak tangga sekitar 500 anak tangga sehingga sangat melelahkan. Di ketinggian awal perjalanan sebenarnya dapat melihat curug dari kejauhan. Dilihat dari kejauhan kita dapat memperkirakan Curug Muarajaya cukup tinggi dan mempunyai debit air yang deras. Perjalanan menurun kemudian dimulai dan sebaiknya tidak perlu bernafsu turun kecuali yang sudah terbiasa. Apabila turun saja sudah melelahkan apalagi kalau naik nanti. Tetapi demi curug yang menggoda dan menakjubkan kita jalani perjalanan yang melelahkan itu.
Sampailah akhirnya di lokasi curug. Curug Muarajaya terbagi menjadi 2 bagian yaitu bagian utama dan bagian anak curug. Curug utama tentunya Curug Muarajaya itu sendirin dengan ketinggian sekitar 80 m. Sedangkan untuk bagian anak curug adalah bagian aliran air curug yang berundak hingga kolam curug. Untuk menikmatinya antara bagian curug tersebut dihubungkan dengan jalan tangga. Penataan tangga cukup bagus sehingga sangat cocok  untuk berfoto – foto di tangga atau untuk mengambil gambar curug. Khusus jalan tangga ke curug utama agak tinggi dan sempit disamping karena cipratan air curug menjadikan lantai anak tinggi agak licin.
Air curug sangat jernih lumayan dingin. Pengunjung bisa bermain – main air di sekitar curug. Untuk anak – anak sebaiknya bermain – main di sekitar kolam anak curug. Sedangkan di kolam curug  utama lebih sempit dan licin. Apabila tidak hati – hati bisa jatuh ke turunan aliran curug yang berbatuan. Disamping itu agar dihindari jatuhan air yang cukup deras langsung ke kepala. Secara keseluruhan nikmatilah keindahan pemandangan curug, kesegaran air curug dan kesejukan udara sekitar curug. Itu semua adalah harga yang pantas untuk rasa lelah ketika menaiki tangga ke atas.

5.       Curug Cilutung
Lokasi Curug Muarajaya berada di wilayah Desa Campaga, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka. Akses menuju lokasi curug adalah berada pada jalur Cikijing – Majalengka tepatnya berada di jantung Kecamatan Talaga. Untuk menuju lokasi curug dimulai dari tugu di pusat Kecamatan Talaga dan mengambil jalan ke arah Baturajeg. Kurang lebih 2 Km dari tugu akan sampai jalan menuju Desa Campaga. Jalan menuju Desa Campaga sempit meskipun kualitas jalan masih cukup baik. Arah lokasi curug adalah sama dengan lokasi PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro) yang sudah tidak berfungsi lagi.
 Tidak ada petunjuk sehingga hanya bermodalkan keterangan dari penduduk setempat. Untung saja letak curug tidak jauh dari jalan sehingga bisa ditelusuri dari sumber suara. Dari pekarangan rumah penduduk masuk lebih ke dalam hingga menemukan saluran irigasi. Selanjutnya hanya sedikit jalan dari saluran irigasi sampailah pada Sungai Cilutung. Sungai tersebut tidak jauh mengalir mendatar karena kemudian jatuh turun ke bawah berupa Curug Cilutung. Apabila musim hujan aliran sungai cukup deras sehingga berbahaya untuk menyusuri sungai. Sedangkan pada awal musim kemarau kita dapat menyusuri sungai di antara batu – batuan besar lalu ke curug.
Curug Cilutung tidak terlalu tinggi, hanya kurang lebih 40 m. Meskipun demikian air yang mengalir sangat deras. Tidak heran aliran Sungai Cilutung sempat dimanfaatkan untuk sumber pembangkit tenaga listrik. Air curug lumayan jernih sehingga cukup segar bermain – main di sekitar curug. Aliran air yang jatuh sangat memikat karena tidak lurus jatuh tetapi terpecah melalui 2 jalan batuan besar sehingga terdapat 3 aliran curug yang jatuh.
 Sebenarnya selain dari Sungai Cilutung, pemandangan curug dapat dinikmati dari arah bawah yang dijangkau melalui persawahan. Sedangkan saat musim kemarau kita dapat menuruni batuan besar yang cukup tinggi dan curam. Hanya untuk melakukan ini perlu nyali karena sulit dan berbahaya. Sekali lagi ini dapat dilakukan hanya pada musim kering, sedangkan pada musim hujan dengan aliran air yang menggenangi batuan dan pasti akan licin. Apabila terjatuh berakibat sangat fatal karena langsung jatuh di atas batuan besar.
Aliran air dari Curug Cilutung kemudian mengalir terus ke bawah dan jatuh kembali sebagai Curug Cilutung II. Namun curug ini sulit dijangkau karena medannya berupa batuan terjal dan jurang dalam. Untuk melihat curug ini dari kejauhan harus menempuh jalan memutar yang jauh dan melewati tanah pertanian. Keunikan Curug Cilutung adalah terdiri dari 2 tingkat yang masing - masing curug berjauhan. Sementara sekitar curug adalah tanah sawah pertanian dengan bentuk bertingkat. Keseluruhan rangkaian curug dan alam sekitarnya memberikan pemandangan yang indah.
Meskipun dekat dengan pemukiman penduduk, namun udara sekitar Curug Cilutung masih terasa segar dan sejuk. Fasilitas penunjang rekreasi tidak ada sehingga pengunjung sebaiknya membawa bekal sendiri. Harus diingat jangan sekali – kali membuang sampah sembarangan karena lingkungan masih cukup asri.

6.       Curug Cilember
Puncak tidak hanya memiliki obyek wisata terkenal berupa pemandangan kebun teh tetapi juga obyek alam seperti telaga dan curug. Salah satu curug yang perlu dikunjungi adalah Curug Cilember. Curug ini berlokasi di Cisarua. Akses masuk dapat melalui jalan lokal dekat Taman Matahari atau jalan menuju ke suatu majelis taklim terkenal di Cisarua. Secara administratif Curug Cilember berada di Desa Jogjogan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. 
Jalan menuju curug merupakan jalan aspal dalam kondisi lumayan baik hanya saja cukup sempit pas untuk 2 mobil berpapasan. Kanan kiri jalan sebagian merupakan perkampungan padat, villa dan tanah pertanian. Pada saat melewati perkampungan laju kendaraan agak tersendat karena aktivitas masyarakat yang lalu  lalang. Ketika memasuki kawasan wisata kendaraan roda 4 maupun roda 2 diarahkan ke tempat parkir masing – masing. Pengelolaan parkir dilakukan oleh masyarakat setempat. Khusus untuk kendaraan roda 2 disediakan juga tempat penitipan helm.
 Kawasan Wana Wisata Curug Cilember dikelola oleh PT. Perhutani. Sebelum masuk ke dalam lokasi wisata pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000. Di halaman depan setelah pintu masuk terdapat papan petunjuk lokasi dan taman hias dengan berbagai jenis tanaman hias lokal.
Di dalam wana wisata itu terdapat areal hutan dengan berbagai jenis tumbuhan dengan pohon pinus yang dominan. Lokasi curug berada di dalam areal hutan dengan kondisi medan yang curam menanjak. Selain itu, di dalam kawasan wisata terdapat taman kupu – kupu dan tempat istirahat dengan warung makan dan kios cindera mata.
 Curug Cilember itu sendiri sebenarnya merupakan sebutan untuk rangkaian 7 curug. Curug terbawah yang merupakan paling ramai dikunjungi adalah curug ke 7. Selanjutnya curug terdekat adalah curug ke 5, sedangkan curug ke 6 sulit dijangkau. Meskipun demikian jalan menuju curug ke 5 cukup terjal dan berjarak ± 1,5 Km sehingga  lumayan melelahkan. Curug ke 5 cukup baik untuk tempat bermain – main. Pemandangan curug dan alam sekitarnya cukup indah sehingga di curug ke 5 ini pengunjung benar – benar puas menikmatinya.